Melody Antariksa

Melody Antariksa

  • WpView
    LECTURES 645
  • WpVote
    Votes 90
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., janv. 20, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"sebelumnya, aku tak pernah tertawa selepas ini. Tapi hari ini aku melakukannya, karena kamu." Ucap gadis itu pada lelaki berwajah tampan dihadapannya, si konyol. "Aku tahu." Jawabannya. ** Awalnya kita hanyalah dua orang asing yang berpapasan dipersimpangan. Aku pernah menyesal bertemu dengan kamu. Aku tidak suka kamu, aku selalu saja merutukimu. Namun, lama kelamaan mengapa aku selalu merindukan wajah konyol itu. Aku pun terkadang tertawa sendiri saat melihat bayang senyummu . Mungkinkah aku mulai tertarik dengan kamu, yang kini tak lagi asing bagiku?
Tous Droits Réservés
#6
luas
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Embun di Ujung Semanggi
  • The Fall of Ladykiller
  • My Partner Life
  • GALAXY
  • Senja Jingga
  • I(A)MPERFECT (TERBIT)
  • GALAKSI BIMASAKTI
  • DAKSA [END]
  • Sincerely, Milan

Aslan kembali setelah enam tahun, sebagai orang yang tak pernah Lea kenal. Gerak-geriknya masih lembut, senyumnya tetap bisa memanaskan pagi yang dingin, tapi sorot matanya menyimpan musim yang berbeda. Seolah ada badai yang sudah lama reda walau belum sempat dilupakan. Aslan menjadi teka-teki yang tak ingin dipecahkan, dan justru karena itulah hati Lea tergelincir padanya. Lea tahu: ada perasaan yang seharusnya tak tumbuh di antara akar persahabatan. Tapi rasa itu hadir seperti embun di ujung daun semanggi-tak diminta, tak dirancang. Seindah harapan kecil yang tak pernah dijanjikan akan bertahan. Aslan yang dulunya magnet bagi masalah, kini menjadi benteng perlindungan Lea. Dan Lea hanya ingin satu hal: kejujuran, sepahit apa pun itu. "Aku gak bohong waktu bilang kalau kamu perempuan paling keren yang pernah kukenal. Wajar, aku suka kamu. Apa menyukai kamu itu suatu kesalahan-atau satu-satunya kebenaran yang masih tersisa dari kita?" Judul sebelumnya: Jakarta's Hidden Melody

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu