Melody Antariksa

Melody Antariksa

  • WpView
    Reads 645
  • WpVote
    Votes 90
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 20, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"sebelumnya, aku tak pernah tertawa selepas ini. Tapi hari ini aku melakukannya, karena kamu." Ucap gadis itu pada lelaki berwajah tampan dihadapannya, si konyol. "Aku tahu." Jawabannya. ** Awalnya kita hanyalah dua orang asing yang berpapasan dipersimpangan. Aku pernah menyesal bertemu dengan kamu. Aku tidak suka kamu, aku selalu saja merutukimu. Namun, lama kelamaan mengapa aku selalu merindukan wajah konyol itu. Aku pun terkadang tertawa sendiri saat melihat bayang senyummu . Mungkinkah aku mulai tertarik dengan kamu, yang kini tak lagi asing bagiku?
All Rights Reserved
#153
antariksa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Embun di Ujung Semanggi
  • The Fall of Ladykiller
  • DAKSA [END]
  •  Alcha ~ Rajawali
  • Sincerely, Milan
  • My Partner Life
  • ANGKASA (END)✅
  • Love You, Kakak Kelas (TAMAT)
  • GALAKSI : SANG PERISAI [END]

Aslan kembali setelah enam tahun, sebagai orang yang tak pernah Lea kenal. Gerak-geriknya masih lembut, senyumnya tetap bisa memanaskan pagi yang dingin, tapi sorot matanya menyimpan musim yang berbeda. Seolah ada badai yang sudah lama reda walau belum sempat dilupakan. Aslan menjadi teka-teki yang tak ingin dipecahkan, dan justru karena itulah hati Lea tergelincir padanya. Lea tahu: ada perasaan yang seharusnya tak tumbuh di antara akar persahabatan. Tapi rasa itu hadir seperti embun di ujung daun semanggi-tak diminta, tak dirancang. Seindah harapan kecil yang tak pernah dijanjikan akan bertahan. Aslan yang dulunya magnet bagi masalah, kini menjadi benteng perlindungan Lea. Dan Lea hanya ingin satu hal: kejujuran, sepahit apa pun itu. "Aku gak bohong waktu bilang kalau kamu perempuan paling keren yang pernah kukenal. Wajar, aku suka kamu. Apa menyukai kamu itu suatu kesalahan-atau satu-satunya kebenaran yang masih tersisa dari kita?" Judul sebelumnya: Jakarta's Hidden Melody

More details
WpActionLinkContent Guidelines