HAURA
  • WpView
    Reads 514
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 24, 2019
Ketika cinta harus merelakan maka jalan satu-satunya adalah ikhlas. Ikhlas ketika melihat dia yang dicintai hidup bersama orang lain. Ikhlas ketika pada akhirnya dirinya harus hidup bersama dengan orang yang tak dicintainya. Ketika pada akhirnya cinta itu tumbuh dihatinya. Ia juga harus ikhlas menerima perpisahan yang sungguh demi apapun tak pernah ia inginkan. Semua itu ia lakukan karena hanya itulah jalan-jalan satu-satunya agar dia yang ia cintai bahagia. Pada akhirnya benar kata orang bahwa level tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan...
All Rights Reserved
#385
keikhlasan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Assalamualaikum Imamku
  • Cinta Ajari Aku Mencintai-Nya
  • Cinta Dalam Ikhlas (SUDAH TERBIT)
  • Q U A L M
  • Mencintaimu Dalam Diam     (On Going)
  • SELAKSA CINTA
  • Kekasih Hati
  • KETIKA HATI HARUS MERELAKAN
  • Hatiku Tertambat, Cintaku Tumbuh [End] √

[cerpen spiritual] ~~ Suamiku, Aku sangat bersyukur kepada Tuhan telah mengirimmu untuk menjadi penggenap imanku. Ketika aku datang dengan berjuta kekurangan, kamu melengkapi dengan segenap yang kamu miliki. Suamiku, Aku tahu. Aku bukan perempuan sempurna. Tapi izinkan aku menjadi istri yang bisa berbakti terhadap suaminya dan juga kedua orang tuanya. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang baik dan selalu berdoa untuk mendapatkan ridhoNya. Suamiku, Aku suka dengan caramu memperlakukanku. Ketika diri ini berbuat sesuatu yang salah, kamu tidak memarahiku. Kamu justru membimbingku. Aku tidak menyangka bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Tuhan baik sekali ya padaku? Kamu lelaki terhebat setelah ayahku. Suamiku, Terimakasih sudah memilihku menjadi pendampingmu. Kamu itu unik. Tapi kamu jahat. Dulu kamu selalu membuatku terus-terusan memkirkanmu. Padahal waktunya belum tepat, tapi itulah kamu. Selalu saja berhasil masuk dalam bayang-bayang pikirku. Suamiku, Aku perempuan yang beruntung bukan? Bisa mendapat lelaki sepertimu, cinta pertama dan terakhirku. Sudah kubilang. Tuhan baik sekali padaku, sampai-sampai tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya aku. Iya kamu. Kekasih halalku, imam dunia akhiratku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines