Bersama Angin

Bersama Angin

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 17, 2019
WpInfo
Poetry
Ku bercerita soal kisahku dipenghujung semester tiga Disaksikan riuh angin yang menari di telinga Serta lalu lalang kendaraan pekerja yang pulang dengan ceria Telah kubuka tirai hidup yang selama ini tertutup Demi menyambut cinta merekah yang dahulu sempat kuncup Diantara bukit-bukit hijau nan sejuk menarik mata Dihiasi langit sedu berwarna jingga Aku di atas titian tengah kota lalu menengadah Ku bercerita kepada senja Tentang kenangan yang selalu berakhir lara Ku tanyakan pula pada bulan Tentang segala harapan yang hanya sekadar angan Kini terpaksa ku usir mereka yang mengisi sudut-sudut terpencil dalam hati Memberi ruang bagi cinta yang telah datang, yang mengisi rongga serambi Tentu girang juga lega ku rasa Hingga rasa itu menitahkan ku untuk selalu setia Pasti ku akan berupaya, doakan saja Padamu angin, terbangkanlah semua tentang senja Ikhlasku akan rona jingganya Padamu bukit yang berderet, bawalah semua tentang bulan Ikhlasku akan cahaya mukanya Aku bersiap diri untuk denyut nadi yang baru Merasakan detaknya di tiap detik bersama sang nala Bandung kan menjadi saksi untuk setiap cerita Aku akan selalu baik-baik saja Aku bisa terlepas dari pilu dan gundah Hanya karna ia, Nala yang ku temukan bersama angin kala di Surabaya. Bandung, desember 2018
All Rights Reserved
#734
angin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Disappearance of Butterfly
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • • EUTANASIA •
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • About Secret Admirer #Wattys2017
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku

Entah mengapa semua kejadian menarik yang melibatkan kamu hampir selalu terjadi disaat senja menjelang. Satu hal yang tidak biasa dengan reaksimu ketika melihat seekor kupu-kupu yang terbang melintasi ruang kosong diantara kita berdua. Kamu menutup mata dengan kedua tanganmu melindungi kepalamu dan bergerak kesana kemari seakan mengusir kupu-kupu itu untuk pergi. Aku sempat berpikir, sepertinya ada sesuatu yang membuatmu benci akan satu hal, tapi apa ? Aku hanya melihat seekor kupu-kupu. Memang apa yang salah dengan seekor kupu-kupu ? Tanpa melanjutkan dan mencari tahu lebih dalam lagi, kupu-kupu itu terbang dan begitu juga dengan kamu yang pergi berlawanan dari arah kupu-kupu itu menghilang. Aku teringat ketika teman baikku pernah berkata, "Kamu bisa bebas pergi seperti burung, hanya saja, jangan lupa untuk pulang." Malam ini, langit hampa tak berbintang, dan hal yang paling indah adalah ketika aku melihat tawamu yang disinari oleh cahaya dari api unggun seakan membakar suasana dingin yang diselimuti oleh hawa panas dari api unggun. Aku suka caramu ketika kamu menunjukkan kepada dunia bahwa kamu sudah merasa nyaman, dengan tersenyum sepanjang waktu. Adik, kamu sedang apa disana ? Nampaknya kehidupanmu lebih tenang dari apa yang sedang kakak jalani disini. Aku sedang memiliki banyak masalah, disamping satu hal yang sedang aku pikirkan. Aku lelah. Mau bantu aku untuk mencari jalan untuk bertemu denganmu ? Tapi aku tidak mau membuat papa dan mama sedih dan merasa kehilangan lagi. One day I will sing for you from the deepest of my heart. So please come to me, so I can get your faith and let me be your man. Disaat itu memang aku lebih menghargai mimpi Tapi sekarang, aku lebih menghargai hidup. Kamu tidak perlu lagi untuk takut dengan kupu-kupu, karena aku lebih takut dengan kepergianmu. Pengagum Pembenci Kupu-Kupu, 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines