Bersama Angin

Bersama Angin

  • WpView
    LECTURES 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., avr. 17, 2019
Ku bercerita soal kisahku dipenghujung semester tiga Disaksikan riuh angin yang menari di telinga Serta lalu lalang kendaraan pekerja yang pulang dengan ceria Telah kubuka tirai hidup yang selama ini tertutup Demi menyambut cinta merekah yang dahulu sempat kuncup Diantara bukit-bukit hijau nan sejuk menarik mata Dihiasi langit sedu berwarna jingga Aku di atas titian tengah kota lalu menengadah Ku bercerita kepada senja Tentang kenangan yang selalu berakhir lara Ku tanyakan pula pada bulan Tentang segala harapan yang hanya sekadar angan Kini terpaksa ku usir mereka yang mengisi sudut-sudut terpencil dalam hati Memberi ruang bagi cinta yang telah datang, yang mengisi rongga serambi Tentu girang juga lega ku rasa Hingga rasa itu menitahkan ku untuk selalu setia Pasti ku akan berupaya, doakan saja Padamu angin, terbangkanlah semua tentang senja Ikhlasku akan rona jingganya Padamu bukit yang berderet, bawalah semua tentang bulan Ikhlasku akan cahaya mukanya Aku bersiap diri untuk denyut nadi yang baru Merasakan detaknya di tiap detik bersama sang nala Bandung kan menjadi saksi untuk setiap cerita Aku akan selalu baik-baik saja Aku bisa terlepas dari pilu dan gundah Hanya karna ia, Nala yang ku temukan bersama angin kala di Surabaya. Bandung, desember 2018
Tous Droits Réservés
#241
angin
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • PUISI UNTUK BUNDA
  • Lelaki Berdada (Ketika Cinta Tak Direstui Tuhan)
  • MELODYRAMA [REVISI]
  • My Diary

Langit yang Tak Pernah Pulang Ketika langit bukan lagi tempat bernaung, tapi tempat berpulang. Angkasa Rayendra Mahatma tidak tumbuh dalam pelukan keluarga Cemara. Di usianya yang kedelapan, ia menyaksikan rumah tangga orang tuanya runtuh. Ibunya menjadi satu-satunya alasan ia bertahan, hingga takdir kembali merenggut-di usia dua puluh, ia kehilangan satu-satunya tempat pulang. Sejak saat itu, ia berjalan sendiri. Dengan luka yang membatu, dengan hati yang tak lagi percaya. Sosok yang dingin, cuek, dan tertutup. Tapi di balik semua itu, Angkasa menyimpan ketulusan yang jarang ditemui. Ia masih suka menolong diam-diam, memotret langit senja, dan menuliskan isi kepalanya dalam baris-baris rahasia yang tak pernah dipublikasikan. Ia tak percaya cinta lagi. Bukan karena tak ingin, tapi karena pernah dikhianati oleh yang paling ia percaya. Hingga suatu hari, sebuah DM sederhana dari seorang followers di Instagram-nya menjadi awal dari sesuatu yang tidak ia sangka. Seorang perempuan bernama Alya Nismara Pradipta-dengan tanya yang polos, dan perhatian yang pelan-pelan menyusup ke dalam retakan hatinya. Mampukah Angkasa belajar percaya kembali? Atau benarkah... langit memang tak pernah benar-benar pulang?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu