RUN or DIE?!

RUN or DIE?!

  • WpView
    Reads 233
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 24, 2019
DIWAJIBKAN MEMBACA SINOPSIS TERLEBIH DAHULU⚠ NO COPY❌:) FIKSI❗// INSPIRED by: zombie film. Sering menjadi topik pembicaraan yang sedikit seru dan menantang, seringkali juga di saksikan didalam film maupun didalam serial cerita komik komik horor, ataupun novel novel bergenre horor, bahkan juga didalam game. Tapi bagaimana jika mereka harus benar benar memilih antara harus tetap lari ataupun mati? antara harus bertahan dengan harus meninggalkan. Tak di Game, Komik maupun Novel, dan kehidupan nyata pun hal ini disebabkan oleh sebuah VIRUS yang menyebabkan harus benar benar rela meninggalkan apa yang telah tersandung dalam virus. baik keluarga maupun harta benda, hanya hitungan hari sudah tak menjamin apakah kita benar benar seorang manusia atau Mayat hidup kanibal. ~~~~~~~~~~~~~~~~ "eh cha, klo seandainya game yang lo mainin itu beneran gimana?" "ngaco lo! mana ada mayat idup ari lari kek gini" "yakali cha! klo itu bener gimana?" "ya kabur lah nyelametin diri, gimana sih, gitu aja masih nanya wkwkwk." "aelah upil onta! gue cuma nanya kali."
All Rights Reserved
#818
fiksiilmiah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • How to Survive
  • Silent Prison
  • TRAPPED ZOMBIE'S (COMPLETED)
  • La Guerra (Tersedia Versi Cetak)
  • ɪ'ʟʟ ᴛᴀᴋᴇ ᴄᴀʀᴇ ᴏꜰ ʏᴏᴜ  < Slow Up >
  • Senyap
  • No Time To Die
  • 7 Days To Survive
  • Run To Depok

Riri menyibakkan rambut hitamnya, "persediaan makanan kita menipis. Kita gak bisa bertahan terus di sini." "Tempat yang paling deket dari sini, ke mana?" Abil membersihkan kacamatanya dengan ujung hijab yang sudah tak dicuci berhari-hari. "Supermarket di tengah kota," Azura menjawab dingin sambil menatap kedua orangtuanya terkurung di balik pintu kamar mandi. Pupil Bian mengecil. Semua orang tahu apa yang akan menjadi keputusan Abil. Seketika si gadis tomboy berdiri. "Supermarket itu terlalu luas dan bahaya. Jangan tolol! Nyawa kita cuman satu!" Nawa mengangguk cepat, wajah memerah menahan tangis, napasnya memburu, "aku gak mau ke supermarket! Gak! Gak mau!" "Terus mau gimana? Mati perlahan di dalam sini? Mikir dong! Jangan karena takut, kalian milih mati kelaparan. Perlu ada kanibalisme dulu baru mau keluar?" Mata Abil memerah penuh gelora emosi dari balik kacamata yang engselnya patah akibat pukulan Bian minggu lalu. Azura memutar matanya malas, situasi sialan ini membuat semua orang lebih sensitif. "Udah-udah!" Nayara melerai. "Memungkinkan gak kalau kita cek ke rumah-rumah sekitar? Siapa tau Alex di sana masih tingkat 1. Bian bener, supermarket terlalu luas dan beresiko. Kita coba cari dulu di rumah sekitar, kalau gak ada, baru kita ke supermarket." Seketika ruangan senyap mencerna kalimat Nayara yang selalu bisa menengahi perdebatan mereka. "Jadi, guys sekarang mereka masih diskusi-" "LETTA!!" Bentakan teman-temannya langsung menyentak si gadis ikal. "Le, matiin," pinta Nayara sambil memberi tempat kosong untuk Letta. *** Hidup para remaja itu berubah ketika penyakit tidak jelas mulai menjelajah kota Bandung. Hidup berbulan-bulan tanpa orang tua dengan pola pikir yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dengan 7 kepribadian yang saling bertentangan? Bertemu dengan banyak orang dan berbagai kejadian. Merubah masing-masing mereka jadi sosok lain. Berhasilkah mereka bertahan hidup? Atau semua kembali pada keputusan mereka?

More details
WpActionLinkContent Guidelines