Antologi Puisi

Antologi Puisi

  • WpView
    LECTURES 25
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., avr. 29, 2019
Cuma kumpulan puisi tak berwarna, terbentuk dari hati abu-abu yang menatap langit senja berpendar pelangi. Hujan selalu merayu penaku untuk menari, kadang lagu sepi,kadang lagu berapi. ____masih belajar____
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Kepada Langit [Terbit]
  • Coretan Kecilku Untukmu #wattys 2019
  • Pagi
  • RUMPANG RAMPUNG
  • "Luka Dalam Senyuman: Kisah Nara"
  • Setelah Langit Berbisik
  • My Poems!
  • Langit Pemisah【END】[Sudah terbit]

Aruna lahir di tengah keluarga yang penuh luka, di mana cinta terasa seperti kewajiban, dan rumah menjadi tempat paling sunyi untuk menangis. Dari ayah yang keras, diamnya ibu, bayang-bayang kakak sampai kehilangan yang tak sempat dimengerti... Aruna tumbuh dalam ketakutan, menyimpan trauma dalam diam, dan menyulam harapan lewat kata. Tapi hidup tak selamanya gelap. Dalam sunyi yang ia akrabi, perlahan tumbuh keberanian. Dari menulis puisi di kamar sempitnya, bertemu dengan seorang psikolog yang mendengar tanpa menghakimi, hingga akhirnya menemukan tempat baru untuk bernapas: tulisan. Ini bukan kisah tentang perempuan yang ingin diselamatkan, tapi tentang perempuan yang menyelamatkan dirinya sendiri. Karena luka tak harus hilang untuk bisa tumbuh. Kadang, luka justru menjadi akar dari kekuatan.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu