[END] Apa Salahku Bun?

[END] Apa Salahku Bun?

  • WpView
    Reads 334,391
  • WpVote
    Votes 20,878
  • WpPart
    Parts 96
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 13, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"ANAK SIALAN!" Bentak ibunya dan ayahnya hanya diam saat Ibunya menyiksanya. Pupus sudah harapan Reina untuk merasakan indahnya keharmonisan hidup berkeluarga. Ibunya sendiri sangat membencinya, dan ayahnya yang tidak berdaya menepis kebencian ibunya terhadapnya. Akankah Reina bisa bertahan dari siksaan orangtuanya sendiri? Kalian tau kan? Bagaimana hancurnya hati Reina? Jika ia bisa memilih, ia memilih untuk tidak menapakkan kaki di dunia yang kejam ini. ----------------------------------------------------------- "aku berharap tidak bisa membuka mataku kembali saat pagi hari, hancur sudah semuanya, apalagi yang harus kuperjuangkan? Sedangkan orangtuaku menganggapku anak sialan?" Tuhan Bantu Aku, ambil ragaku Tuhan - Reina - Warning : Cerita ini dibuat tidak berdasarkan kisah nyata. Apabila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata, jangan sesekali meniru adegan ketika putus asa ya! (Follow dulu sebelum membaca 😊, dan tekan tanda bintang vote yay)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • SIMETRI
  • RadenRatih
  • Bertumpu
  • Amour (COMPLETE)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • LIFE LINE | Of Blood, Love, and Loyalty
  • ELUSIF
  • MENYAKITKAN (Freya)
  • ANATHAN  || END

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines