We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Real love

Real love

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 7, 2020
WpInfo
Fanfic
Enhypen
"Ketika kita khawatir kepada seseorang apakah kita bisa mendeskripsikan itu cinta? Ketika kita memberikan seseorang itu perhatian apakah juga bisa deskripsikan itu cinta?"sanggah pria itu dan kembali meneguk latte hangatnya. Perempuan itu hanya terkekeh "tidak. Tidak semua perhatian itu bisa diartikan dengan cinta. Kita bisa memberikan perhatian kepada siapa saja yang kita kehendak. Hanya saja sekarang kau sedang bingung dengan perasaanmu, apa itu hanya sekedar perhatian atau lebih dari itu? Kau hanya sedang mencoba meyangkalnya, menyangkal perasaanmu itu" katanya seraya tersenyum. "Ada apa dengan kalian semua? Aku benar-benar bingung" pria itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meraih jaket yang dia lampirkan dikursinya. Moodnya tiba-tiba hilang begitu saja. "sebaiknya aku pergi daripada mendengar omong kosong kalian" Sungguh dia ingin segera meninggalkan tempat ini. "kau akan menyadarinya nanti" Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Ketika dia tak ada disisimu. Ketika dia pergi, jauh dari jangkauanmu. Ketika kau dilanda rindu yang sangat terdalam, menahan sakitnya merindukan seseorang. Saat itulah kau baru sadar bahwa kau memang mencintainya" Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sakit mengingat jika dia benar-benar akan pergi meninggalkannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • BAD GIRL
  • I Love You
  • kiara's dream
  • Is LOVE
  • THE CLIMB [Completed]
  • Three Idiot Girls  ✔
  • Mine [TAMAT]
  • Sudut pandang (felisha)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines