We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Senja dilangit Palestina

Senja dilangit Palestina

  • WpView
    Reads 366
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 27, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Aku hanyalah wanita biasa. Bukan wanita setabah Sayyidah Asiyah. Bukan wanita sebaik Sayyidah Khadijah. Bukan wanita sesuci Sayyidah Maryam. Bukan wanita setulus Sayyidah Aisyah. Bukan wanita sesabar Sayyidah fatimah. Bukan. Bukan seperti mereka semua. Aku hanyalah wanita akhir zaman yang penuh dengan kehinaan. -Nasyida Humaira Alfarizi
All Rights Reserved
#181
tegar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rohis Love Location #WATTYS2019
  • ADA PELANGI DI UJUNG WAKTU
  • Kutunggu Hijrah Subuhmu (TERBIT)✅
  • Javas Drexzer [END]
  • Air Mata Hijrah
  • Takdir Sang Ilahi [END]
  • 'ANA BISIDQ ZAWJIIN (TAMAT)
  • Ad Meliora || END✓

Pria itu tampak tersenyum tipis. "Aku tidak tahu, tapi aku sungguh tidak menyukai itu. Aku dekat denganmu hanya sebatas karena rekan kerja saja, sama seperti aku dengan Aara. Bahkan aku rasa aku lebih dekat dengan Aara. Tapi apapun alasan mereka mengatakan aku mempunyai hubungan denganmu, aku sangat berharap kalau kamu mempunyai pikiran sesuai apa yang aku harapkan. " Dia menarik napasnya panjang lalu membuangnya. "Aku harap kamu juga seperti aku. Aku menganggapmu sebagai rekan kerjaku, dan kamu pun begitu, menganggapku hanya sebagai rekan kerjamu. Jangan merasakan apapun padaku melebihi batas itu. Aku harap, kita tidak terjebak dalam rasa yang tidak seharusnya timbul, Nafsiyah." Karena cinta tak selamanya berwarna merah jambu. Adakalanya kita harus merasakan pahit dan kelamnya warna kelabu. Tapi nikmati saja, luka yang seolah tak berujung ini bisa jadi akan aku rindukan suatu saat nanti. Karena pada saat itu, setidaknya aku masih bisa bersamamu. Ilyasa Khalifatul Kahfi

More details
WpActionLinkContent Guidelines