Bunga Terdampar

Bunga Terdampar

  • WpView
    Reads 120
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 7, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Aku adalah bunga. Terdampar di antara bunga lain yang wanginya melebihi diriku. Aku tampak kecil di antara mereka. Tuhan mengajariku akan nasib ini. Akulah, bunga yang terdampar oleh takdir-Nya. -Ade Fitri Descrioktari- ~~ follow: Wp:@Titin_kartkart @Titin_kartkart2 Ig:@Titin_kart @Adefitriadeswita (Tokoh utama)
All Rights Reserved
#11
ade
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • JIWA YANG MATI || COMPLETE
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • My Home [Hujan Series]
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • BULAN (END)
  • LUTTÉ (End)
  • APPRECIATE ME?
  • FAMILY MASA GINI?
  • perjalanan cinta rumit

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines