Unspoken Words

Unspoken Words

  • WpView
    Reads 308
  • WpVote
    Votes 66
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 14, 2019
Kini lamat lamat kusadari bahwa mencoba terbiasa tanpanya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, bahkan jauh lebih sulit dari mencoba untuk terlihat baik baik saja. Dia pernah menjadi terlalu berarti bagiku sampai pada akhirnya semesta mengharuskanku melepasnya secara paksa. Kau tau bagaimana rasanya? Hancur. Aku benci mengakui bahwa aku berantakan karena kepergiannya. Namun menahannya dengan segala keterpaksaan yang akan ia hadapi kedepannya kurasa lebih buruk. Jadi kubiarkan ia melakukan apa yang ia mau. Aku bisa apa untuk menahannya? . . .
All Rights Reserved
#83
broken
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • at: 12am
  • My teaser Devil Prince✅ [MOVE TO MANGATOON]
  • The Detective Is My Wife [TAMAT]
  • N O R A [on going]
  • Loser(Lover)- (END)
  • ARZU ✔ [SUDAH TERBIT]
  • Still The Same
  • My Junior My Love ✔️
  • My New Family
  • Alphabet
at: 12am

Dia menolak ku. Satu-satunya pria yang pernah menolakku, satu-satunya pria yang berani mendorongku menjauh.. satu-satunya pria yang sangat ku inginkan. Aku akan memilikinya. Sekeras apapun dia mendorong pinggangku untuk memisahkan ciuman ini, sekeras itu pula aku memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman ini. Rasa frustasi telah membutakanku, membuatku nyaris tidak waras dengan rasa cemburu yang memenuhi seluruh tubuh. Mulutnya mengetat, berusaha menolak saat tanganku merambat mengusap bahu dan dadanya yang masih terbungkus kemeja. Mengerang, setelah sebuah kecupan akhir, aku menurunkan ciumanku menuju telinganya. Menghembuskan nafas pelan dan berbisik. "Ada apa? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini?" Di pangkuannya, aku menggigit telinganya pelan, sedikit melengguh sebelum kembali menurunkan ciumanku kembali menuju lehernya yang selalu berhasil membuat imajinasiku menggila. Tangannya meremas pinggangku semakin keras, "Lepaskan aku." Dia menggeram, membuatku justru menyeringai dengan sangat senang. "Bagaimana bisa kau menolak keinginan istrimu hum?" Aku berbisik, mengangkat wajahku menatapnya. Bahunya melemah, wajahnya terkejut, diantara alkohol yang mengambil alih kesadarannya aku bisa merasakan sisa kemarahan yang selalu dia tunjukan padaku kembali membara. "Jangan merepotkan dirimu sendiri sayang, kau tau itu akan sia-sia." Aku mengerakan salah satu jariku mengusap wajahnya. Pencahayaan minim dari lampu kamar hotel membuat wajahnya yang selalu menjadi kesukaanku itu semakin terlihat menakjubkan. Dia menatapku marah, rahangnya bergemeretak. "Wanita licik." Aku tertawa, "Memang," Kembali mendekati wajahnya dan menatap bibir tipis menggairahkan miliknya dengan atensi penuh. Tanpa sadar menggigit bibirku sendiri, gemas. "Jika untuk mendapatkanmu, tidak akan ada wanita yang tidak bersikap licik." Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. Hanya padaku. Sean Aldarict

More details
WpActionLinkContent Guidelines