I'll Try || Kim Doyoung

I'll Try || Kim Doyoung

  • WpView
    Reads 1,426
  • WpVote
    Votes 88
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 28, 2020
"Lo tadi bisa nembak di area three point kan?" Derrel bertanya di sela tangan kanannya masih sibuk memantulkan bola basket ke lantai. "Iya bisa, kenapa?" Gissa menjawab dengan santai. "Gue ada tawaran, mau coba? Kalo dari tiga kali shooting lo bisa masukin satu bola, lo boleh ngajuin satu permintaan ke gue." "Kalo gue gagal?" "Kebalikan," jawab cowok itu pendek. "Kalo itu bukan yang aneh-aneh, it's okay." ----- "Oke, apa yang lo minta?" Gissa yang gagal memasukkan bola ke ring bertanya "Jadi cewek gue." Sebuah jawaban singkat, namun membuat Gissa membisu untuk sementara. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Juga apa yang harus dia lakukan. ----- Sebuah cerita dari beberapa orang yang bertahan, yang mempertahankan, dan yang mencoba untuk menguatkan.
All Rights Reserved
#12
derrel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • Rewrite The Star || NCT WISH {END}
  • Distance | Jaeyong ✓
  • Because I'm Stupid (End)
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • MY MORTAL ENEMY! [ TERBIT ✔️]
  • Asdos - Fly Away with Me ; Kim Doyoung
  • Only You Can Love Me This Way (ON GOING)
  • ARTAN
  • LEITHLEACH
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines