Story cover for because you help me by kalisaputri
because you help me
  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Apr 27, 2019
"anda gak papa?" sontak wanita cantik pada lelaki tampan yang sempuyangan hampir jatuh dari tangga.

   pertolongan pertama yang reyhan dapatkan membuatnya nyaman akan hal itu sebab sudah 4 tahun ini dia tidak pernah merasakan pertolongan dari orang-orang meski itu kerabatnya sendiri.

baginya wanita disebelahnya saat ini terlalu peduli dengan sekitar sehingga dia slalu spontan menolong orang yang bermasalah ketika disebelahnya.

andin tidak berani menatap kedua mata reyhan saat itu,karena sejak tadi mata tajamnya tertuju padanya tanpa berkedip sama sekali,dan wajahnya pun ditutupi dengan masker hitam yang membuatnya semakin misteri.


"ah..hehehe kalau anda baik-baik saja saya pergi dulu,permisi.." ucap andin dengan bergegas pergi menjauh.

tubuh andin semakin samar namun reyhan tetap memandang kearahnya sampai bayangannya pun tak ada lagi.

'orang baik' batin reyhan sambil tersenyum dibalik maskernya.


palp....plap.....plap....palp....palp...palp...

semua orang bertepuk tangan senang ketika boss mereka datang.


"aduhhh aku telat nih" cetus andin pada dirinya sendiri saat berlari menuju dapur perusahaan yang berada dibagian dalam dekat kantin.

siang itu andin harus membeli keperluan diluar karena persediaan dapur habis.

saat dia berlari karena buru-buru andin tidak sengaja menabrak seorang pemuda tinggi seperti tiang listrik dan berwajah tampan.Laki-laki itu sedikit mundur karena bertabrakan dengan andin,kebalikan dengan andin,dia terjatuh karena menabrak badan bidang pemuda tadi.


"aduhh sakit kakiku..." keluh andin saat hendak berdiri.

"aduhhh maaf ya kk...saya bener-bener gak sengaja.ada yang luka gak? saya obatin yah" ujar andin khawatir sambil menundukkan kepala beberapa kali untuk meminta maaf.
All Rights Reserved
Sign up to add because you help me to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Truth After Love (Tamat, segera terbit) by tiaxyl
36 parts Ongoing Mature
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
Stay With Me  [On Going] by Mendayu_Aksara
13 parts Complete Mature
"Senior..!" Teriak seorang gadis remaja dengan begitu kencang. "Senior..!" Tambahnya lagi, tak kalah nyaring dari sebelumnya. Namun tetap saja, pemuda tampan yang sedari tadi berjalan menjauh dari gadis belia tersebut, berpura-pura tuli dan enggan berbalik. Tak mendapat respon dari seseorang yang saat ini tengah ia teriaki gelarnya, gadis cantik dengan wajah Asia tersebut menggeram kesal. "Arsya Raysent.!" Teriaknya penuh amarah Seketika, langkah kaki yang tadinya enggan berhenti. Akhirnya memilih untuk diam. Dengan segera, pemuda tampan tadi berbalik guna menatap seseorang yang saat ini tengah meneriaki nama nya dengan begitu tidak sopan. Nampak, ia menarik nafas kasar sembari memejamkan matanya singkat. Dan pada detik selanjutnya, mata hazel yang lebih dominan berwarna coklat terang tersebut, perlahan kembali memilih untuk terbuka. Dan kembali menatap gadis yang saat ini berada cukup jauh dari tempat dimana ia berdiri sekarang. Namun kali ini, mata hazel itu nampak menatap nyalang. "Jangan melewati batasan mu, kau sungguh tidak sopan.!" Geram pemuda tampan tadi "Jika dengen melewati batasan ku, kau bisa memperhatikan ku. Maka akan ku lewati semua batasan-batasan itu" Balas gadis remaja itu dengan berani, kali ini sebuah senyum nampak mulai jelas terukir pada wajah cantik tersebut. Sungguh, Arsya begitu kesal dibuatnya. Namun pemuda itu memilih mengakhiri semua ini, tak ingin memperpanjang kerunyaman yang ada. Dengan segera Arsya kembali berbalik dan melangkah pergi. Entah pada langkahnya yang keberapa, Kembali, gadis bernama Adinda tersebut berteriak lagi. "Aku bersumpah, akan membuat mu jatuh cinta pada ku.!" Teriaknya kencang. Mendengar hal itu, Arsya pun menggeram singkat di tengah lalu nya saat ini. "Bermimpi lah, karena kau sama sekali bukan tipe gadis idaman ku" Balas Arsya masih dalam lalu nya yang enggan berhenti. "Kita lihat saja nanti.! Kau, atau aku yang akan menang.!" Teriak Adinda lagi dengan nafasnya yang memburu.
Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤 by imajinachan
18 parts Ongoing
"Bagaimana bisa aku mimpi bertemu Mama kalau aku tidak tahu Mama itu seperti apa Pa?" "Karena itu Papa akan beritahu rahasianya. Kamu mau?" Tawaran Jaemin dengan cepat disambut anggukan ribut putranya. "-apa yang kamu pikirkan tentang Mama?" "Cantik." Jaemin kembali tersenyum ketika mengusap kening sang putra. "Sangat cantik. Mama mu benar-benar cantik.." Jawab Jaemin, kali ini balas Yuta yang tersenyum lebar. "-lalu siapa yang kamu bayangkan saat kamu memikirkan kata cantik?" Jaemin kembali bertanya, membuat Yuta menunjukkan tampang berpikir -seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Auntie Renjun cantik sih.. Tapi aku tidak yakin jika Mama cerewet seperti Auntie." Jaemin menahan kekehannya, '𝘔𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘳𝘦𝘸𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨..' "-eumb.. Sekretaris Papa, Bibi di kedai ice cream, Ibu guru. Kecuali Auntie Renjun aku tidak suka mereka." Balas Yuta langsung merengut, kembali ia mendongak untuk menatap tajam sang Papa yang terkekeh pelan ketika melihat ekspresi putra kecilnya. "-Bibi Haechan! Bibi Haechan sangaaaat cantik kan Pa?" Yuta menatap Jaemin dengan tatapan berbinar. Membuat Jaemin menggigit bibir dalam, ia menahan air matanya yang mulai berkaca. Kembali pula direngkuh tubuh kecil jagoannya, ia bawa untuk lebih dekat lagi dengan tubuhnya. "Cantik. Cantik sekali." Begitu mendapat persetujuan dari si Papa, Yuta bersorak kecil. "Yippie!" "Maka pikirkan Bibi Haechan." "Ha, siapa Papa?" "Dan kamu akan bertemu dengan Mamamu di dalam mimpi." "Begitu?" Jaemin mengangguk dengan senyuman lembut. "Tidurlah sayang.."
SENJA DI PUNCAK TANGKILING by Chaterine0202
2 parts Complete Mature
"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".
You may also like
Slide 1 of 10
Truth After Love (Tamat, segera terbit) cover
Diantara mereka cover
tumbal gadis perwan  cover
Aku Adalah Lukamu cover
Eat, Bread and Love (TAMAT) cover
Stay With Me  [On Going] cover
Silent, Please! (Re-up) cover
Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤 cover
YES, BOSS ! (SELESAI) cover
SENJA DI PUNCAK TANGKILING cover

Truth After Love (Tamat, segera terbit)

36 parts Ongoing Mature

perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.