We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jus Jeruk

Jus Jeruk

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Thu, Sep 5, 2019
WpInfo
Non-Fiction
malam itu semakin dingin ditambah tiada suara pun bergeming, hanya gesekan angin yang menggarukkan punggungnya di dahan dahan pohon tua nan rindang. sesekali nyanyian burung hantu dan binatang malam membangunkan sebagian kami yang tertidur, tak akan mungkin juga kami terpulas di atas tanah miring seperti hampir kandas mungkin sekitar 60 derajad iya menungkik tajam ke arah jurang yang di isi pepohonan lebat itu. beruntung ini masi gelap tak ada apa yang terlihat. malam semakin larut sunyi semakin tebal membuat hati semakin berdebar apa kah benar agaknya esok kami bisa pulang, badan ku mulai menggigil semangat ku kian mengecil kulihat ada teman yang semakin kebiruan memelukku kakinya, iya kedinginan. ah tidak, mungkin itu hanya perasaan ku saja, hanya karena di sini gelap kaki ku saja hampir tak terlihat. sesekali kabut tebal itu memudar membiarkan sang bulan mengintipi kami dari sela sela dedaunan mata malam itu cahayanya bagai laser laser putih bercampur kabut tipis yang menembus lebatnya pepohonan hutan tempat kami bermalam. dalam kebisuan kami di haru biru oleh kesan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Hidup di Dalam Bayangan
  • THE UNYIELDING  [END]
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • WARISAN
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • She(r)
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • Senja Termendung

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines