malam itu semakin dingin ditambah tiada suara pun bergeming, hanya gesekan angin yang menggarukkan punggungnya di dahan dahan pohon tua nan rindang.
sesekali nyanyian burung hantu dan binatang malam membangunkan sebagian kami yang tertidur, tak akan mungkin juga kami terpulas di atas tanah miring seperti hampir kandas mungkin sekitar 60 derajad iya menungkik tajam ke arah jurang yang di isi pepohonan lebat itu. beruntung ini masi gelap tak ada apa yang terlihat.
malam semakin larut sunyi semakin tebal membuat hati semakin berdebar apa kah benar agaknya esok kami bisa pulang, badan ku mulai menggigil semangat ku kian mengecil kulihat ada teman yang semakin kebiruan memelukku kakinya, iya kedinginan. ah tidak, mungkin itu hanya perasaan ku saja, hanya karena di sini gelap kaki ku saja hampir tak terlihat.
sesekali kabut tebal itu memudar membiarkan sang bulan mengintipi kami dari sela sela dedaunan mata malam itu cahayanya bagai laser laser putih bercampur kabut tipis yang menembus lebatnya pepohonan hutan tempat kami bermalam. dalam kebisuan kami di haru biru oleh kesan.
Di bawah lapisan hangat seragam putih biru kusut, Senja Gitarja, sang
pahlawan bagi dirinya sendiri kini hadir di dalam gelap dinaungi serigala
bertubuh tinggi besar, berseibo hitam berlapis topeng. Benar, serigala-serigala
itu bagai manusia yang ia jumpai semasa masih duduk di bangku sekolah menengah
pertama, di pagi hingga siang hari yang terhitung panjang. Dalam tundukan kepala
yang penuh gelap dan rasa ketidakdilan.
Pantaskah mereka yang buruk didekap kehangatan bagai tak punya rasa bersalah
sama sekali?
Pantaskah kesalahan seluas samudra menciut hingga tak terlihat bagai sebutir debu?
Pantaskah kebaikan tertutup salju tebal lalu hilang entah kemana sebab
buah hasut-menghasut para bedebah?
Pantaskah kami, para manusia-manusia yang hanya punya pendirian diri tak
disanjung sama sekali oleh dunia?
Lalu pantaskah mereka yang tangannya kotor bak membunuh temannya sendiri
di hutan belantara yang gelap dan sedikit udara, bermain dengan kehangatan
yang kami impi-impikan?
Berapa banyak manusia yang akan kau samakan nasibnya
sama seperti kita-kita ini, bedebah?
2 bulan menuju kelulusan ialah bulan-bulan kami para 'yang disingkirkan' untuk
menikmati api panas yang dicipta oleh mereka. Tolong, bertahan sebentar untuk
ini, 6 kawanku. Kelak di hari kelulusan tiba kita berlomba-lomba jadi juara
berpredikat orang paling bahagia di dunia.