We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Seperti Malam

Seperti Malam

  • WpView
    Reads 226
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 25, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Ini tentang diriku, Anak remaja berusia 17 tahun yang tidak merasakan kasih sayang kedua orang tua. Aku selalu mendefinisikan jiwaku seperti malam hari, kesepian, kesunyian, sendirian dan gelap. Namun Laki laki itu mendefinisikan malam sangat berbeda denganku, dia mengubah definisi malamku menjadi ketenangan. "Jika lo adalah malam yang kesepian dan penuh dengan kesendirian. Maka gua adalah bintang yang hadir untuk merubah malam lo menjadi penghantar tidur yang nyaman dan penuh kedamaian." -Jeon - Mau tau kisah lebih lanjut tentang ku? Bacaa Yaaa!! Jangan lupa tinggalkan vote, komen dan follow yaa :) Luv you guys dari resti💚
All Rights Reserved
#171
cintaremaja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • My Brother is cold as ice
  • The Mermaid _TAEKOOK✔️
  • LOVE YOURSELF
  • FADE IN THE WIND [JUNGKOOK x EUNHA] ✔
  • You Never Know •  (TAENNIE)
  • So Far Away
  • Kill This Love ✔
  • LOVE AND WAR [Season 2]

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines