BENA
  • WpView
    Reads 472
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 28, 2024
Orang-orang bilang kalau dua orang yang terluka tak seharusnya bersama. Jatuh cinta seharusnya sesederhana itu, bukan? Sesederhana 'aku milikmu' dan 'kamu milikku'. Setidaknya itu yang ada di pikiran gadis itu, sebelum ia bertemu dengan 'Tuan', pemuda yang berhasil mengambil hati dan pikirannya di masa lalu. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk gadis itu menyadari bahwa ia akan selalu jatuh pada 'Tuan'. Ketika semesta memberikan satu kesempatan lagi, mereka saling mengenal lebih dalam daripada yang mereka lihat, gadis itu dan Tuan sadar bahwa mereka saling membutuhkan. Namun, mereka pun tahu bahwa mungkin saja mereka kelak akan menjadi sesuatu yang saling menghancurkan ketika perasaan keduanya saling bertaut. BENA © Ganelein 2019
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Ini Aku, Erlang
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Langit untuk Asa
  • Benalu [Terbit]
  • THEY WITH THEIR WOUNDS {END}
  • Why Stay Away?
  • Sudut Luka Nazea
  • Senja yang mendung
  • Mengalah? Gak papa (END)✔

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines