We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Imajiner

Imajiner

  • WpView
    Reads 422
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2020
WpInfo
Fiction
Fantasy
[Fantasy-Romance] Bisa dibilang, Sean terlahir dari air mata dan imajinasi seorang gadis. Bukan secara kebetulan. Sebenarnya keberadaan Sean sudah sejak lama sekali. Ia paham bahwa hadirnya, tentu memiliki ikatan dengan gadis tersebut. Tangis yang membawa rasa putus asa mendalam bagi gadis itu, hingga kemudian datanglah Sean beserta uluran tangannya. Bukan pula merupakan tugas wajib, namun Sean takkan pernah lari dari sisi si gadis. Bukan hantu, pun malaikat. Ia hanyalah sesosok wujud dambaan seorang perempuan sejak lama. Hanya saja, memang tak semua mata mampu melihat sosoknya. "Dia memang berbeda, lain daripada yang sejenisnya. Tak ada duplikatnya karena memang hanya ada satu. Dia adalah Sean, lelakiku yang tak mungkin selingkuh. Jangan tanya mengapa, karena sudah jelas dia benar-benar milikku." -Evin Patricia ________ copyright©2019, CeNat
All Rights Reserved
#1
imaginer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • at: 12am
  • Adam dan Audrey
  • Baby,Good Night! (Completed)
  • My Ice Prince
  • DARSEN [Proses Revisi]
  • CHOOSE ME ! [Completed] ✔
  • Rapuh [COMPLETE]
  • Semenjana (END)
  • Senja dan Langitnya
  • Regulation of Vampire [END-Part Masih Lengkap]
at: 12am

Dia menolak ku. Satu-satunya pria yang pernah menolakku, satu-satunya pria yang berani mendorongku menjauh.. satu-satunya pria yang sangat ku inginkan. Aku akan memilikinya. Sekeras apapun dia mendorong pinggangku untuk memisahkan ciuman ini, sekeras itu pula aku memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman ini. Rasa frustasi telah membutakanku, membuatku nyaris tidak waras dengan rasa cemburu yang memenuhi seluruh tubuh. Mulutnya mengetat, berusaha menolak saat tanganku merambat mengusap bahu dan dadanya yang masih terbungkus kemeja. Mengerang, setelah sebuah kecupan akhir, aku menurunkan ciumanku menuju telinganya. Menghembuskan nafas pelan dan berbisik. "Ada apa? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini?" Di pangkuannya, aku menggigit telinganya pelan, sedikit melengguh sebelum kembali menurunkan ciumanku kembali menuju lehernya yang selalu berhasil membuat imajinasiku menggila. Tangannya meremas pinggangku semakin keras, "Lepaskan aku." Dia menggeram, membuatku justru menyeringai dengan sangat senang. "Bagaimana bisa kau menolak keinginan istrimu hum?" Aku berbisik, mengangkat wajahku menatapnya. Bahunya melemah, wajahnya terkejut, diantara alkohol yang mengambil alih kesadarannya aku bisa merasakan sisa kemarahan yang selalu dia tunjukan padaku kembali membara. "Jangan merepotkan dirimu sendiri sayang, kau tau itu akan sia-sia." Aku mengerakan salah satu jariku mengusap wajahnya. Pencahayaan minim dari lampu kamar hotel membuat wajahnya yang selalu menjadi kesukaanku itu semakin terlihat menakjubkan. Dia menatapku marah, rahangnya bergemeretak. "Wanita licik." Aku tertawa, "Memang," Kembali mendekati wajahnya dan menatap bibir tipis menggairahkan miliknya dengan atensi penuh. Tanpa sadar menggigit bibirku sendiri, gemas. "Jika untuk mendapatkanmu, tidak akan ada wanita yang tidak bersikap licik." Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. Hanya padaku. Sean Aldarict

More details
WpActionLinkContent Guidelines