Nightmare And Daydream

Nightmare And Daydream

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 6, 2019
"3..2..1.. Siap atau tidak, aku datang," George mengangkat kelopak matanya keatas dan mengawasi sekelilingnya. Dua jam sudah George menjelajahi desanya. Aneh, tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia memutar badannya, menghadap ke arah hutan. Menyibakkan dedaunan yang menjadi penghalang matanya untuk menatap kejanggalan ini. Burung-burung terbang menjauhi hutan. Firasatnya buruk, instingnya berkata dia harus segera pergi dari sini. Namun, kakinya tak melangkah barang sedikitpun. Terbesit dengan cepat, seseorang dipikirannya. Seorang gadis yang menemani hari-harinya. Bak cheetah, George mendobrak masuk ke rumah gadis pujaannya. Nihil! Padahal tadi mereka sempat bermain hide-and-seek barang sejenak. George meremas rambutnya, hingga ia merasakan dengan tubuhnya sendiri. Bumi berguncang dengan keras tanpa belas kasihan padanya. "This is it, goodbye, Caroline"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ex or New? [REVISI]
  • Should be Remember
  • January
  • Dalam Diam
  • Shadow That Fades
  • Fall for You
  • Juragan Tampan &  Gadis Kampung

Ubur-ubur ikan lele, mampir dulu lee.. Apa rasanya saat seseorang yang dulu kamu anggap segalanya, perlahan berubah jadi orang asing? Alea tahu rasanya ditinggalkan tanpa penjelasan. Dikhianati oleh diam yang menyakitkan. Saat Zayn, laki-laki yang pernah ia percaya akan jadi akhir ceritanya, memilih pergi tanpa kata pamit, Alea belajar cara menyembuhkan luka sendiri. Namun hidup selalu punya kejutan. Saat semua tentang masa lalu perlahan ia kubur, muncul seseorang yang tak pernah ia duga. Alegra. Dingin, menyebalkan, tapi... perlahan jadi tempat Alea berlabuh. Tapi bagaimana jika bayang-bayang masa lalu belum benar-benar selesai? Saat Alea harus memilih, antara bertahan pada kenangan, atau membuka hati untuk seseorang yang baru. Kadang, pertanyaan terbesar bukan tentang siapa yang datang, tapi siapa yang layak untuk tetap tinggal. Alegra memasukan tangannya ke dalam saku hoodie-nya. "Udah cukup ngobrolnya. Nanti kita ketemu lagi." Alea mendengus. "Siapa yang bilang kita bakal ketemu lagi?" Alegra menyeringai. "Takdir." Jangan lupa vote, komen, and follow juga akunnya. See you..

More details
WpActionLinkContent Guidelines