Amare Le Ferite ( Luka Cinta )

Amare Le Ferite ( Luka Cinta )

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 8, 2019
Ini tentang aku dengan kisah cintaku dan bagaima caraku hidup. Semua bercampur dalam tahun ini,tahun dimana aku bertemu dengan dia. Dia yang bisa membuatku terpanah dalam pandangan pertama yang sebelumnya tak pernah aku alami,dan bagaimana cerdiknya dia tentang meninggalkan setelah membuat terbang. " Aku bukan tak rela dia pergi hanya saja kenapa dia harus pergi dengan cara seperti ini? Kita kenal dengan cara baik baik,kenapa harus berpisah dengan cara yang tak baik? " - Ghania Larasati " Rasa penasaran menjadi awal,kemudian berkembang menjadi rasa bosan yang manusiawi yang bisa timbul dengan sendirinya,selanjutnya aku mulai menghilang,bukan karena benci atau apapun itu,hanya saja aku tak ingin menyakiti tapi ternyata aku terlanjur menyakitimu " - Satria Dhirgantara
All Rights Reserved
#129
satria
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Just The Way You Are | Min Yoongi [END]
  • Ardan [TERBIT]
  • For You [END]
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • The High Class
  • Serpihan Kaca [COMPLETED]
  • LOST MY BREATH (ON GOING)
  • Airin
  • Tanpa Kepastian

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines