Story cover for CORETAN MALAM by sangyasir
CORETAN MALAM
  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Complete, First published May 07, 2019
Dia ingin bisa tidur malam seperti orang normal pada umumnya. Namun ketika matanya terpejam, dirinya yang lain memaksanya untuk tetap terjaga. Menuliskan sesuatu yang tidak jelas baginya sebuah refreshing, beruntungnya dia memiliki tempat untuk menggoreskan penanya ini.
Gelap pun jatuh, fajar tiba, dia lelah, lalu tidur.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add CORETAN MALAM to your library and receive updates
or
#777puisi
Content Guidelines
You may also like
Pendekar Dari Pajajaran by salaka27
2 parts Ongoing
Setiap kerajaan besar menyimpan dua hal yang tak terelakkan: kejayaan... dan keretakan. Di Tarumanagara, pecahan-pecahan itu mulai terasa seperti getar halus di permukaan air-nyaris tak terdengar, tapi menyimpan badai yang sabar. Patih Wilagni tahu: ia sedang berdiri di antara sisa-sisa peradaban yang megah, tapi rapuh. Di usia senjanya, ia hanya ingin diam di beranda, mendengar suara angin dan cucu yang tertawa. Tapi sejarah jarang mengizinkan seseorang pergi tanpa luka. Tuduhan, pengkhianatan, dan dendam masa lalu mendesaknya untuk memilih: diam... atau melindungi yang ia cintai. Aryaseta, putra semata wayangnya, belum sepenuhnya tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah warisan dari masa yang runtuh. Ia masih membaca sastra tua di kamarnya, tidak tahu bahwa namanya sedang ditimbang di ruang-ruang kekuasaan yang tak ia kenal. Dan Santanu, bekas prajurit yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk istana, kini harus kembali menakar kesetiaan di atas luka. Di antara rempah-rempah dagangannya, ia menyimpan satu sumpah: agar tak satu pun anak cucunya jatuh ke dalam lingkaran dendam keraton. Lalu, Tarumanagara pun pecah. Dari rahimnya lahir dua anak kandung yang tak lagi saling mengenal: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Satu ingin melanjutkan nama, satunya ingin memulai yang baru. Tapi sejarah tidak pernah bisa ditulis tanpa darah. "Petaka di Tarumanagara" bukan sekadar kisah tentang raja dan perang. Ini adalah narasi tentang perpisahan, tentang keberanian menyelamatkan jiwa meski kehilangan segalanya, dan tentang cinta yang bertahan meski dunia berubah bentuk. Bila kekuasaan adalah lingkaran, maka cerita ini adalah tentang orang-orang yang memilih keluar dari pusaran itu-demi cinta, demi warisan yang lebih luhur daripada tahta.
You may also like
Slide 1 of 7
A Love Lost Beneath the Blue cover
TERNYATA AKU DI TENGAH [ON GOING] cover
SajakSesak 2 [Arief Aumar] cover
SAJAK BERSAYAP cover
Coretan Hitam cover
Pendekar Dari Pajajaran cover
Sedalam Samudera  cover

A Love Lost Beneath the Blue

1 part Ongoing

"Sebenarnya, siapa yang lebih aku butuhkan? Dia yang nyata di hadapanku, atau seseorang di masa lalu yang tak bisa kugenggam kembali?" Pertanyaan itu terus menggantung di udara-seperti kabut pagi yang enggan sirna, menggumpal di antara detak waktu yang tak pernah memberinya jawaban. Himeka Ocean, seorang perempuan yang terperangkap di antara bayang masa lalu dan kenyataan yang tak lagi ia pahami. Ia melangkah, namun hatinya terhenti di satu titik: di antara melupakan, atau terus terjatuh dalam jerat kenangan yang tak mau lepas. Di sisi lain, seorang lelaki, ia menjadi peneduh di bawah badai. Ia tinggal, bukan sehari atau dua, tapi bertahun-tahun. Ia mengusap air mata yang tak selalu terlihat, menjadi saksi luka yang tak pernah sembuh, menjadi penjaga dalam sepi yang tak pernah berakhir. Tapi bagi Himeka, itu belum cukup. Bukan karena ia tak bersyukur, tapi karena ada sesuatu yang terus dicari, terus dirindu-seseorang yang hanya hadir dalam lamunan-lamunan panjang dan sunyi. Malam demi malam, ia menelaah hatinya-seperti membaca buku tua yang penuh debu dan sobekan. Ia mencari, di setiap sudut yang pernah ia tutup rapat. Siapa yang selama ini ia tunggu? Cinta seperti apa yang hatinya dambakan? Apakah akhirnya Himeka Ocean akan menemukannya? Atau justru takdir menuntunnya membuka lembaran baru-dengan tangan gemetar namun tekad yang perlahan terbit dari reruntuhan dirinya?