Harapan di balik niqab

Harapan di balik niqab

  • WpView
    Reads 6,516
  • WpVote
    Votes 249
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 12, 2019
bukan sebuah harapan atau pun khayalan tapi,hanya bayangan yang melintas secara tidak sopan dalam dada dan doa yang berakhir menjadi cinta dan berujung luka. prolog mungkin bagi Nisya Aulia hafidza menikah sesuai pilihan orang tua adalah sesuatu yang baik, tapi memang tak semuanya benar . Muhammad Ali Al -ardyadi . pria tampan Sholeh mapan. siapa yang tidak jatuh cinta padanya. tapi dihari Ali saat itu sudah ada satu wanita yang ia ukir namanya,sakit bagi Ali tuk menikah dengan dasar perjodohan tapi Allah adalah segalanya maha hanya dia yang tau akhirnya. NISYA AULIA HAFIDZA Nisya, nama panggilan ku . aku hari ini pulang ke tanah air.sudah 5 tahun aku di Yaman tuk menimba ilmu.lebaran pun aku tak pulang, paling cuma video call. Umi dan Abi sudah menunggu di ruang tunggu. Dengan langkah cepat aku menghampirinya. mereka menatap ku aneh. ya karena aku sedikit berbeda. kini aku di balut niqab. mereka tersenyum sesekali mengecup ku. air mataku lolos begitu saja membasahi pipi ku. Umi dan Abi memelukku erat.rinduku 5 tahun ini terbalaskan detik ini. perjalanan ke rumah' cukup lama saat di mobil Abi bertanya tentang kehidupan ku di sana. begitu juga umi.adiku naifa aila hanifa.naifa tidak ikut hari ini karena hari ini dia sedang mos hari pertama masuk kuliah.tak lama setelah itu sampailah kami di rumah'. aku berlari menuju kamarku yang sudah kutinggal 5 tahun ini. ku hempaskan tubuh ku keranjang. dan menghela nafas panjang.umi masuk dan duduk di tepi ranjang.dan menyuruhku duduk duduk. "ada apa umi?"tanyaku tidur di pangkuan nya "Nisya,kamu dah besar udah waktunya"kata umi menggantung "kamu mau s2 dulu apa langsung nikah?"lanjut umi "mi, Nisya mau kerja dulu.ntar klo Nisya dah kerja dah mapan baru Nisya siap"kataku pelan "nak,qodrat seorang wanita bukanlah bekerja.tapi menjaga dan Melayani suaminya.jadilah istri Sholihah .jangan jadikan pekerjaan mu jadi penghalang kesholihahan mu pada suami mu "nasihat umi "insyaallah mi"kata ku.
All Rights Reserved
#395
gemes
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • A [Completed]
  • Story Nisya
  • Pahala Surgaku✓
  • GURUKU IS MAHRAMKU
  • Not A Perfect Husband ✔
  • ATHARLA [REVISI]
  • Menikahinya Dalam Diam (On Going)
  • Cinta Suci Zahra✓
  • Jodoh Pilihan Abi
  • Love Till Jannah [END]

"Jangan liatin gue kayak gitu, gue ga suka." Ucap Aya terang-terangan. "Aya," panggilan itu entah kenapa terasa berbeda, Aya menjadi gugup. "Hm?" Aldi justru kembali diam, lagi-lagi malah menatapnya. "Kak sumpah gue ga suka ditatap lawan jenis begini. Lo to the point aja mau bahas apa, kalau engga lo bisa balik." Ucap Aya akhirnya. Aldi justru mengotak-atik ponselnya kemudian di sodorkan ke Aya. "Kenapa?" "Liat aja," Tanpa rasa curiga Aya mengambil ponsel itu. Ada sebuah video berlatarkan ruang rawat Ayahnya. Aya menatap Aldi bingung sebelum memutar video itu. Tangan Aya bergetar, inikah alasan Ayahnya meminta agar ia jangan membenci sang Ayah? "Tolong berusaha ikhlas dengan keputusan Ayah, tolong jangan benci Ayah karena itu." Ucap Ayahnya saat itu. Aya tidak tau harus apa. Aya tau pernikahan dalam video ini sah, setidaknya dalam agama. Jadi ia sudah menjadi istri Aldi dari kemarin? Dan tidak ada satupun yang mengatakannya? Bahkan Ayahnya juga tidak bertanya dahulu apa ia mau atau tidak. "Ayah tidak salah, beliau tidak ingin lo sendiri." Ucap Aldi hati-hati. "Tapi kita cuma orang asing. Lo bisa-bisanya nikahin gue gitu aja. Gimana kalau gue orang jahat? Gimana kalau lo yang orang jahat? Gu-gue..." Aya menggeleng. "Gue gatau," lanjut Aya pelan. Apa karena ini juga Papa Aldi mengatakan kalau Aya sudah mengambil anak laki-lakinya? Jadi Papa Aldi tidak merestui mereka? Rasanya Aya semakin dibuat pusing. Aya menggeleng, "Ini, ini semua masih ga masuk akal." Aldi tau Aya tidak akan menerima dengan mudah. Tapi ia sudah berjanji, tidak hanya dihadapan Ayah Aya dan para saksi, tapi juga dihadapan Allah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines