Harapan di balik niqab

Harapan di balik niqab

  • WpView
    Reads 6,518
  • WpVote
    Votes 249
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 12, 2019
bukan sebuah harapan atau pun khayalan tapi,hanya bayangan yang melintas secara tidak sopan dalam dada dan doa yang berakhir menjadi cinta dan berujung luka. prolog mungkin bagi Nisya Aulia hafidza menikah sesuai pilihan orang tua adalah sesuatu yang baik, tapi memang tak semuanya benar . Muhammad Ali Al -ardyadi . pria tampan Sholeh mapan. siapa yang tidak jatuh cinta padanya. tapi dihari Ali saat itu sudah ada satu wanita yang ia ukir namanya,sakit bagi Ali tuk menikah dengan dasar perjodohan tapi Allah adalah segalanya maha hanya dia yang tau akhirnya. NISYA AULIA HAFIDZA Nisya, nama panggilan ku . aku hari ini pulang ke tanah air.sudah 5 tahun aku di Yaman tuk menimba ilmu.lebaran pun aku tak pulang, paling cuma video call. Umi dan Abi sudah menunggu di ruang tunggu. Dengan langkah cepat aku menghampirinya. mereka menatap ku aneh. ya karena aku sedikit berbeda. kini aku di balut niqab. mereka tersenyum sesekali mengecup ku. air mataku lolos begitu saja membasahi pipi ku. Umi dan Abi memelukku erat.rinduku 5 tahun ini terbalaskan detik ini. perjalanan ke rumah' cukup lama saat di mobil Abi bertanya tentang kehidupan ku di sana. begitu juga umi.adiku naifa aila hanifa.naifa tidak ikut hari ini karena hari ini dia sedang mos hari pertama masuk kuliah.tak lama setelah itu sampailah kami di rumah'. aku berlari menuju kamarku yang sudah kutinggal 5 tahun ini. ku hempaskan tubuh ku keranjang. dan menghela nafas panjang.umi masuk dan duduk di tepi ranjang.dan menyuruhku duduk duduk. "ada apa umi?"tanyaku tidur di pangkuan nya "Nisya,kamu dah besar udah waktunya"kata umi menggantung "kamu mau s2 dulu apa langsung nikah?"lanjut umi "mi, Nisya mau kerja dulu.ntar klo Nisya dah kerja dah mapan baru Nisya siap"kataku pelan "nak,qodrat seorang wanita bukanlah bekerja.tapi menjaga dan Melayani suaminya.jadilah istri Sholihah .jangan jadikan pekerjaan mu jadi penghalang kesholihahan mu pada suami mu "nasihat umi "insyaallah mi"kata ku.
All Rights Reserved
#957
perfect
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SAMUDRA HATI ( ✔ )
  • A [Completed]
  • GURUKU IS MAHRAMKU
  • Love Till Jannah [END]
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • Story Nisya
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Kutunggu Hijrah Subuhmu (TERBIT)✅
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • Jodoh Pilihan Abi

Aku mungkin memang sudah gila menghabiskan uang jajanku hanya untuk membeli tabloid setiap hari sabtu. Ya seperti aku sudah gila! Karena aku tergila-gila padanya, Rafaël Alvarez, bintang sepakbola yang masih muda tapi telah kaya prestasi. Astagfirullah...tapi aku mempunyai alasan kenapa aku mencintainya. Cinta? Benarkah ini cinta? Ini lebih cocok di sebut nafsu. "Kau sudah gila! Kau mencintainya dan kau mengharapkan dia menjadi seorang muslim?" Inge duduk di atas meja di kelas. Matanya menatap kedua bola mataku dengan tajam. "Itu hal yang tak mungkin. Kamu berkhayal dek..." "Dan satu lagi, jangan kau lupakan mbak, aku juga ingin jadi istrinya." Kataku seraya ku lemparkan senyum keledai. "Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Sadarlah kita ini siapa? Dan siapa dia?" Inge menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya tersenyum padanya. "Kau tahu bagaimana wanita yang mereka impikan? Mereka menginginkan wanita yang cantik glamour dan juga seksi. Mereka akan bangga mempunyai istri seperti itu." "Aku tahu..." jawabku tenang. "Dan kau tahu berapa juta penggemar wanitanya yang cantik, glamour dan seksi di Dunia! Bukan hanya di Inggris atau di Indonesia." "Aku tahu..." aku masih menjawabnya dengan tenang. "Nah sekarang kau tahu. Sekarang coba kita lihat diri kita! Tak cantik, sederhana, dan berkerudung." Inge turun dari meja, ia memegang kedua lenganku dari belakang dan mendorong tubuhku menuju cermin kelas. "Coba berkaca!" ucapnya lagi gemas. Matanya setengah melotot menatapku dari kaca. "Aku tahu dan kau tak perlu mengingatkanku akan hal itu." Jawabku lembut. Aku membalikan tubuhku dan menatapnya sekilas. Lalu berjalan santai ke arah tempat dudukku sambil tersenyum-senyum. "Lalu apa yang kau punya? Apa yang bisa kau banggakan hingga kau keras kepala memimpikan itu?" Inge menatapku heran. Novel ini karya Fathia Mohaddisa, aku copas dari FP Kawanimut

More details
WpActionLinkContent Guidelines