Magic Is My DESTINÝ

Magic Is My DESTINÝ

  • WpView
    Reads 298
  • WpVote
    Votes 109
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 3, 2019
In Bedroom 06.30 Kring... Kring...Drtt Aku mengerjapkan mataku yah walau susahdibuka sinar matahari sudah main nembus-nembus masuk ajah seperti jin yang dimiliki Alladin melalui celah fentilasi jendela dan dari gorden yang bercorak bintang setipis dinding cintaku sama Tomingse.Yaelahmaleh lari kesono Back to laptop :) Ia bangkit dari tempat tidur yang empuk and nyaman tiba- tiba ia menatap jam serta hp yang terletak dimeja samping kamar tidurnya. "Welah dalah ampus telat kesi.. bubur eh salah kesiangan nyo" menjitak kepalanya sendiri dengan pelan.
All Rights Reserved
#292
hari
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Hi, Pak Dosen!
  • Ctrl+P My Heart
  • Asmalibrasi | Hyuckna ✔️ (Terbit)
  • COLDEST | NA JAEMIN ✔
  • Cuek Tapi Romantis [Dreame/Innovel]
  • Roommate With Benefits
  • Cuaca
  • Teh Malioboro: Screams Of The Pain!?

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines