My Girlfriend is (not) Ugly -[ON HOLD]

My Girlfriend is (not) Ugly -[ON HOLD]

  • WpView
    Reads 384
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 23, 2020
"Tidak semua pemeran utama itu memiliki wajah yang cantik, mulus, pinter, kaya, populer, dan gaul." - Rosa Ashalina *** Namaku, Ocha. Perempuan berumur 15 tahun yang membenci hidup karena terlahir jelek. Jelek bukanlah masalah, jika kamu bisa hidup nyaman dan damai setiap harinya. Tapi, bagaimana karena wajahmu jelek, kamu diperlakukan tidak adil dan selalu diolok-olok oleh temanmu sendiri. Memangnya, siapa yang ingin terlahir jelek bukan? Aku pernah mendengar sebuah kalimat, "keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking." Dan itu memang kenyataannya. Kalau kamu punya wajah jelek, tentu hidupmu tidaklah mudah. Tapi, jika wajahmu cantik, tentu, kamu punya privilage sendiri dan hal itu membuatmu mudah untuk menjalani hari-hari. Apa yang paling membencikan dalam hidupku selain punya wajah jelek? Bukannya aku membenci Kakak dan adikku, hanya saja, Kak Bunga dan Veno memiliki wajah yang cantik dan tampan tidak sepertiku yang buruk rupa. Hal itu membuatku dianggap anak pungut oleh orang yang tidak mengenal keluargaku. Kamu tau, apa yang aku doakan setiap sebelum tidur? Aku berdoa, saat aku terbangun dari tidur, aku bangun dengan wajah baru yang cantik. Yah, seperti di film-film. Tapi, aku tau hal itu mustahil. Atau mungkin, aku ingin berubah menjadi cantik seperti karakter Nam di film Thailand yang berjudul Little Things Called Love atau seperti Kim Hye Jin dalam drama korea She Was Pretty. Masalahnya adalah, mereka dari lahir sudah ada bakat cantik. Sedangkan aku tidak. HAHAHA Jadi, bagaimana hidupku ke depannya? Apa aku akan berubah menjadi cantik dan mendapatkan cinta sejati? Atau, begini saja dengan wajah jelek yang melekat di diriku. HAPPY READING! With, love Woro Malla ❤ Ps: Mohon maaf atas ketidaknyamanannya kalau dari segi alur dan tokoh ada yang berubah, karena masih sering melakukan tahap revisi dan mencoba untuk lebih baik lagi. Hope you like it! ❤
All Rights Reserved
#139
ugly
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • REGRET
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • Is LOVE
  • Something Lost.
  • LOVE YOURSELF(Hiatus)
  • Sebuah Rasa
  • SalFlo
  • Our Times (Completed)
  • KEPERGIAN SENJA
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines