[BIHS] Brainly

[BIHS] Brainly

  • WpView
    Reads 1,582
  • WpVote
    Votes 281
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 2, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
( Cover by @Melianaptr16 ) Hidup di lingkungan sekolah yang memilih segudang peraturan, dan disiplin yang akut. Sekolah yang didalamnya berisi orang-orang dengan otak cerdas Membuat para murid saling bersaing untuk menjadi terbaik diantara yang terbaik. Tidak ada kata teman, yang ada hanya rival! Waktu yang habis digunakan untuk belajar, belajar dan belajar. Jika lengah sedikit bisa jadi kamu akan menjadi nomor terkahir dan bisa menjadi yang terburuk. "Gue gak mau berteman sama siapa pun disini.!" - Hanindya Saqueena "Bagus! Karena disini gak akan ada yang namanya teman. Kita semua disini adalah rival!!!" -Fadhela Zivanya Ayunindya Rank #1 Brainly writerrs 05-juli 2019(aslinya lupa) Rank #2 unggul 25-juli 2019
All Rights Reserved
#744
rival
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • AKSELIO NALENDRA
  • CLASS F
  • ALVALERRON ✓ [TERBIT]
  • Aksa-Dara [SELESAI]
  • Hypocritical (Zeedel)
  • ZIA-IE
  • YOU'RE (NOT) MINE--Completed
  • ANGKASARAYA 2 [END]
  • Lisa [Sudah Terbit dalam Bentuk E-Book]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines