Skenario Cinta

Skenario Cinta

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 11, 2019
Jakarta, kota tua yang disebut-sebut ibu kota itu menjadi saksi bisu dimana sosok yang dulunya tidak peduli menjadi peduli bahkan jatuh cinta dibawah alam sadar nya. Pertemuan itu membuat perubahan diantara kita. Diam mu membuatku semakin menjadi-jadi. Perasaan yang terpendam tidak dapat lagi tersimpan rapat bagaikan kertas pemilu.-Arka Skenario memang membutuhkan cinta, namun cinta tidak harus dengan skenario agar dapat saling melengkapi. Sadarkan Cinta akan skenario yang selalu dibuatnya hanya karena tidak ingin jauh dengan Arka. Arka maafin Cinta. Cinta tau Cinta salah, tapi Cinta nggak mau kalau Arka sampai diemin Cinta balik kayak gini. Cinta janji nggak akan ngedrama lagi demi sama Arka, sumpah. Arka maafin Cinta ya, Cinta sayang sama Arka. Semoga Arka juga masih sayang sama Cinta.-Cinta
All Rights Reserved
#62
skenario
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Memeluk Kabut
  • My Heart
  • Past Love Part 1
  • Under The Midnight Sky
  • Love Story In Friendship [End]
  • Naya
  • Bucin Sejak Dini

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines