Not The Best Partner?

Not The Best Partner?

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 18, 2019
Sedari awal kita sudah tahu kelanjutan cerita ini. Memaksa untuk terus bersama hanya akan menambah kenyaman dan tak mau kehilangan. Kita tidak bisa lagi sembunyi di balik kalimat 'Kita jalani aja dulu'. Sudah terlalu tua untuk terus berada dalam hubungan yang mengambang. Tahun pertama mungkin kita masih have fun dengan segala perbedaan yang ada. Tahun kedua, tekanan dari berbagai pihak mulia bermunculan. Hingga pada tahun ketiga. Aku rasa kita tidak bisa lagi mengulur waktu. Aku takut semakin banyak waktu yang kita lewati bersama semakin membuat kita sulit untuk melepaskan. Perbedaan diantara kita memang tidak bisa disatukan. Mungkin memang aku bukan muslimah yang taat tapi untuk pindah kepercayaan aku menolak keras, Gal. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan Tuhan ku untuk makhluk yang bukan umatnya. Maaf Gal untuk kali ini aku bersikap egois. Kita tidak pernah bisa bersama tanpa terluka. Selamat tinggal, Alister Galen Pratama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 31 Months for You (Revisi)
  • Tak Seiman Cinta Dan Lukanya
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Dibawah Langit Yang Retak (joongpond)
  • Line Of Destiny
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Aku, Kamu & Keyakinan {On Going}
  • SENJA DI UJUNG KEYAKINAN
  • ANTARA DOA DAN RASA

"Tidak semua cinta harus disuarakan. Tidak semua harap harus digenggam. Kadang, mencintai diam-diam adalah satu-satunya cara bertahan." Alia tidak pernah menyangka bahwa satu tatapan singkat di awal masa kuliahnya akan mengubah segalanya. Septian, lelaki dengan sorot mata tenang dan senyum yang jarang muncul, perlahan tumbuh menjadi pusat semesta kecil di dalam hatinya. Selama tiga puluh satu bulan, Alia menyimpan rasa itu sendiri. Dalam doa-doa sepertiga malam. Dalam senyum pura-pura. Dalam perasaan yang tak berani ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Namun ketika kedekatan itu mulai tumbuh, semesta justru menguji dengan luka lama, rasa minder, dan kenyataan bahwa tidak semua yang kita doakan bisa kita miliki. Ini adalah kisah tentang cinta diam-diam, perasaan yang tumbuh tanpa janji, dan perjuangan mencintai diri sendiri di tengah luka yang belum sembuh. Pelangi di Balik Hujan Rindu bukan sekadar romansa. Ia adalah perjalanan tentang harapan, kehilangan, dan keberanian untuk melepaskan... meski hati belum benar-benar rela.

More details
WpActionLinkContent Guidelines