Akhirnya setelah 5 tahun, Leilah kembali ke Amerika. Dia berpikir semuanya masih sama seperti sebelum dia pergi. Bertemu dengan sahabatnya Dominic, kembali bersekolah dengan Dominic dan menjalani hari-hari bahagia dengan Dominic. Itulah harapannya.
Namun ternyata dugaannya salah.
Dominic telah berubah, dia bukanlah Dominic yang Leilah kenal dulu.
Lingkungan sekolah yang ia bayangkan akan ia jumpai saat kembali, musnah dalam sekian menit ia memasuki sekolah.
Ia berharap menjumpai teman yang ramah dan bersahabat serta keberadaan Dominic di sampingnya saat ia bersekolah kembali ke Kota ia dibesarkan. Agar ia bisa menenangkan hatinya yang gelisah selama 5 tahun yang kelam di Rusia.
Namun yang ia jumpai di hari pertama sekolah adalah pembullyan di depan matanya. Dan orang yang tidak ia sangka akan melakukan hal itu adalah Dominic sendiri.
Dan lebih buruk lagi, Dominic bahkan berpura-pura tak mengenalnya di sekolah.
Leilah berharap ia tidak perlu menjadi dirinya yang selama 5 tahun berpisah dengan Dominic. Namun sikap Dominic memaksa Leilah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
~❤~
"Semuanya tidak akan menjadi rumit jika kau tidak membuatnya rumit." Bisik Leilah perlahan.
"Kau sendiri yang bilang, kau adalah King. Murid - murid lain akan mendengarkanmu." Leilah menatap lurus ke arah Dominic.
"Kau tak tahu perjuanganku untuk tiba di posisiku saat ini. Kau tidak tahu betapa sulitnya hidupku!" Kata Dominic dengan nada membentak.
Mendengar kata 'sulitnya hidup' seakan memicu Leilah sepenuhnya.
Dalam satu dorongan Leilah membalik keadaan dan mendorong Dominic ke tembok. Dan mencengkram baju Dominic dengan sangat kuat.
"Kau tidak tahu apa itu 'sulitnya hidup'. Mereka yang berakhir seperti dirimu saat menghadapi kerasnya hidup adalah pengecut!" Kata Leilah dingin.
"Kuberi kau waktu satu minggu. Atau..." Leilah mendekatkan wajahnya pada Dominic dengan senyuman yang membuat tubuh Dominic merinding. "Kau dan hirarki tercintamu akan jatuh." Bisik Leilah.
"Gue tau,lo pasti mikir gue sakit hati apa ngak sama ledekan lo tadi pagi disekolah. Udah deh ngak usah pake ngeles segala." Jelas Azka panjang lebar,Dyra berpikir apa Azka bisa membaca pikiran orang?.
"Pede bego." Ceplos Dyra.
Maudy yang melihat percekcokan antara dua insan didepannya pun berdehem. Dyra dan Azka melihat kearah Maudy.
"Lo berdua kalo mau pacaran bilang dong,jangan buat gue nunggu. Tau gini gue balik luan." Maudy pura - pura merajuk.
"Hah,pacaran? Are you okay?." Tampak wajah Dyra terkejut.
"Iya jadi ini baru jadian. Lo tau kan kalo temen lo ini gampang merajuk,dan sok jual mahal." Azka mengatakan seperti otang polos yang tanpa dosa sedikitpun.
Dyra ingin protes dengan perkataan Azka barusan,namun mulutnya langsung dibekap oleh Azka.
Maudy tampak mengerutkan dahinya." Kenapa lo ngak bikang gue Ra?."
"Dia malu,makanya dia nyuruh gue yang bilang." Sembur Azka. Dyra sudah geram melihat tingkah Azka,mulutnya memang masih dibekap dengan tangan Azka,namun pikirannya tidak. Dyra memiliki ide. Dia langsung menginjak kaki Azka,sehingga Azka meringis dan melepaskan bekapannya dimulut Dyra.
Story @ZikraSalsabila😊😍.