Except U
  • WpView
    Reads 2,160
  • WpVote
    Votes 612
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 5, 2020
I'm bipolar.You see? Keyla POV Aku terlihat seperti tidak terluka, Kuat, dan sempurna.Aku juga hidup di tengah-tengah keluarga otoriter dimana orangtuaku dengan sempurna menjagaku.Tapi ntah kenapa aku merasa terkekang.Atau aku yang terlalu bersemangat dengan ide-ide dan pemikiranku sendiri sehingga mengabaikan nasehat mereka. Aku cuma mau bilang aku tersiksa hidup seperti ini.Hari-hariku hanya siksaan diatas namaku sendiri.Aku hanya bisa menyelesaikan semuanya dengan melukai diriku.Aku puas menghabisi diriku. Kadang aku bahagia sebahagia mungkin.Bahkan kemampuanku di atas rata-rata saat suasana hatiku bahagia.Namun di satu titik, saat hatiku terserang.Tidak ada yang dapat mengontrol ku.PERGI KALIAN SEMUA!! ini saatnya aku habisi diriku Tapi terimakasih untuk seseorang yang telah diciptakan Tuhan untukku.Hadir menjadi aktor baru yang benar-benar mengubah skenario hidupku.Dia membuatku mengubah cara pandangku terhadap dunia.Terimakasih atas semua kenangan indah itu Setidaknya sebelum sesuatu benar-benar terjadi padaku.Ntah itu aku pergi atau menetap.
All Rights Reserved
#63
bipolar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • RANNA
  • Aku Jatuh dan Cinta
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt
  • As Time Allows
  • Self Injury's(complete)✔
  • DEAR ANNETHA
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Cahaya [COMPLETED]
  • The First, Not the Last

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines