Literasi Rindu

Literasi Rindu

  • WpView
    Reads 428
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 28, 2025
Ketika Kamu pergi maka tinggal hanya ada Aku dan Kenangan, Luka dan Rindu yang tak urung pergi mengisi lembaran-lembaran kisah hidupku yang memilukan. Terdengar menyedihkan bukan? Karena kebanyakan Rindu hanya berupa Kenangan, entah itu bahagia atau Luka. Selamat bersua denganku si Perindu. Mari merindu. Bukan untuk mengulang Luka apalagi mengulang Kisah, hanya untuk mengenang bahwa pernah ada tawa yang begitu berharga dengannya, juga tangis yang begitu pilu karena dia memilih berlalu. Bukan untuk terlihat menyedihkan kemudian membuatnya menyesal namun percayalah Luka yang Dia torehkan memang begitu hebat, karena rasakupun begitu hebatnya, kemudian menjadi tak berarti dimatanya. Disaat Rindu terus hadir berbisik pilu, meminta untuk lekas bertemu. Sedang Aku dan dia tak lagi satu tuju, hanya sebuah pena dan secarik kertas tempatku mencurah rindu. 💕💕💕 Nah, tulisan ini ku persembahkan kepada kalian-kalian yang tak bisa menyampaikan rindunya entah itu karena hanya mantan, yang terlewatkan, ataupun yang takkan pernah mengucapkan. Selamat merindu dan membaca... NC💕
All Rights Reserved
#30
yah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • harapan yang pupus
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • SalFlo
  • Satu Bait Tentang Hidup
  • Cerita Rein (SUDAH TERBIT)
  • TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • SEMESTAKU

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines