Unconditionally

Unconditionally

  • WpView
    Reads 23,401
  • WpVote
    Votes 1,244
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 29, 2019
⚠18+ Aku bangun disebuah kamar Rumah Sakit. Disambut tatap senang, haru dan bingung orang-orang yang sangat asing dipandanganku. Satu-satunya wanita dihadapanku itu memelukku erat sambil berucap syukur atas sadarku,kemudian bertanya "Siapa namamu?? " Aku bingung, betul. Siapa aku, aku dimana? siapa mereka?. "Namamu Kwon Lalisa, panggil aku Omma, ini Appamu. Dan yang berdiri diluar itu Oppamu" Dan ceritaku dimulai. A Fanfic by Aiigootuskull Jiyong X Lisa Jilice in your Areahhh beberapa Part akan 🔞+
All Rights Reserved
#8
gdxlisa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Introducing Me (New Version)
  • Just Ordinary
  • When Perfect Meet Trouble Maker [END]
  • "IDK (I Don't Know)"
  • Wet
  • I Don't Care ( jl )
  • SOMETHING IN YOU - JENLISA [G×G]
  • Strawberries and Cigarettes
  • IF YOU || Lizkook ( END ) ✓
  • Me and My Specialty Love [HIATUS]

Aku si itik buruk rupa yang ditinggalkan ibuku. Aku melihatnya bertengkar kala itu, marah dan memukul pria di depannya, laki-laki yang aku pikir ayahku, tapi tidak pernah sudi aku panggil begitu. Keesokan harinya, setelah pertengkaran hebat, ia membawaku keluar dari rumah. Kami naik ke sebuah taksi, melewati banyak gedung. Gedung-gedungnya kelihatan begitu besar, bak monster, sebab mereka tidak punya bendera, dinding batu dengan warna-warna cerah seperti kastil dalam anganku, ketika itu. Aku terus melihat ke jalanan di luar, halte-halte bus yang kami lalui, persimpangan jalan yang sialnya terlihat mirip satu sama lainnya. Aku tidak bisa membedakannya. Lalu taksi berhenti, tanpa mematikan mesinnya supir taksi itu menunggu kami untuk turun. Ibuku tidak membayar ongkos taksinya, jadi aku bertanya-tanya, apa supir taksi itu akan terus menunggu sampai ibuku membayarnya? Namun ibuku tidak menjawabnya. Ia menelepon, bicara entah pada siapa lalu memberiku sebuah amplop. Amplop bekas, berwarna coklat yang sudah usang. Hal yang selanjutnya terjadi, aku ditinggalkan. Ibuku kembali masuk ke dalam taksi, melaju pergi setelah memintaku menunggu sebentar di sana. Setelah ia memberitahuku, kalau aku harus menunggu Bibiku di sana. Aku si itik buruk rupa yang ditinggalkan, namun kisah ini bukan tentangku. Ini tentang Bibiku, seorang luar biasa yang aku harap adalah ibuku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines