Senandika Angkara

Senandika Angkara

  • WpView
    Reads 259
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadComplete Sat, Dec 5, 2020
Barangkali harapan adalah bunga-bunga kenaifan, Dan kenyataan adalah duri-duri pengajarannya. Atau barangkali, Aku yang terlalu picik menafsirkan harapan. Menuduh nya dengan keji, atas pengabulan yang tertunda. ---- Senandika Angkara ----
All Rights Reserved
#22
illness
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Angkasa (Forget Me Not)
  • LUKA BERAKHIR DUKA
  • Luka Yang Selalu Datang (END & REVISI)
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • Misteri KKN Di Desa Penari
  • You Are Mine [Terbit]
  • Hopeless
  • FLEUR ✓
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Dream of a Hospital [Hiatus]

"Bunganya udah layu, Sa. Yakin mau dibeli? Nanti sampai rumah juga mati." "Gak apa-apa. Gw pastiin bunga ini gak akan mati. Layu bukan berarti mati, kan? Gw bakal rawat bunga ini... terus kasih ke Ayah." Ia tidak memilih mawar, tak pula melati. Hanya bunga kecil yang nyaris mati-seperti dirinya sendiri. Hari demi hari, ia rawat bunga itu seakan sedang menjaga harapan yang hampir padam. Rapuh, tapi belum sepenuhnya punah. Namun di Hari Ayah, harapan itu kembali layu. Bunga itu ditolak, bahkan sebelum sempat menyampaikan maksudnya. Dan malam itu... ia tak pernah pulang. Namun nyatanya, Tuhan itu adil. Setelah semua luka, setelah semua kejatuhan... Tuhan menghadirkan satu suara-yang tak menghakimi, tak pula menuntut. Hanya berkata pelan: "Sama gw, Sa. Sama gw terus. Kalo boleh berharap, semoga suatu hari nanti gw bisa jadi alasan lo buat pulang." Angkasa (last flower) "Forget me not" Warning ⚠️ Thriller × Angst × Crime !!! Cerita ini mengandung unsur thriller yang menegangkan, serta banyak adegan kekerasan, darah, kriminalitas, dan teka-teki. Harap bijak dalam memilih bacaan. ‼️⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines