End Destiny

End Destiny

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 17, 2019
"Lu tau takdir?" laki-lali itu bertanya sambil melirik gadis cantik disampimgnya. "Tau lah!" gadis itu menjawab dengan nada ketus. Mendengar itu, laki-laki tadi hanya mengangguk. "Mungkin sekarang cuma gue yang sayang sama lo, cuma gue yang cinta sama lo, tapi gue yakin. Besok lo bakal jatuh sama gue, lo bakal sayang sama gue, lo bakal cinta sama gue, tunggu aja! Hakikatnya gitu kan? Klo benci nanti endingnya mesti bener cinta kan?" laki-laki itu berujar dengan diiringi senyuman di akhir kalimatnya. "Apaan ?gak! Klo benci ya tetep benci! Dan gw cuma sayang Alex! Cinta Alex dan bakal terus kayak gitu. Dan endingnya gue bakal sama Alex titik!." gadis itu menjawab sambil melotot. "Iya." laki-laki itu tersenyum manis. Bahkan sampai membuat gadis itu kagum dalam hitungan detik. Setelah itu__ "Jadi? Sekarang benci gue sepuasnya! Ntar gue bakal buat lo jatuh buat selama-lamanya. Paham?" _____________ Awokok😂 Nganu👌😂 Klo penasaran buka aja:)
All Rights Reserved
#23
rafa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • Bad Girl & Nerd Girl [END]
  • Diantara Kalian
  • AYKA
  • DAKSA [END]
  • SamLova [Terbit]
  • Pelangi Di Matamu
  • AFIKA [ END✔ ]
  • RAFKA [REVISI]
  • DUTRA AZALEA (COMPLETED)

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines