We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
ERVAN
  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 1, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Temani aku makan siang." Ervan menjalankan mobilnya keluar dari butik. "Aku masih pake sendal jepit. Tasku juga didalam. Berhentiin mobilnya." Ucapku dengan kesal. Ervan hanya diam dan tidak meladeni ucapanku. Wajahnya masih datar. "Ervan! Hei!" "Kenapa?" Tanyanya dengan wajah kesal. "Aku masih pake sendal jepit!" "Mau beli?" Tanyanya masih fokus dengan jalanan. "Iya!" Jawabku dengan kesal. Bodo amat lah aku tidak peduli. Dasar aneh. Aku benar-benar tidak menyangka dengan cowok disampingku ini. Ervan beneran membawaku ke mall supaya aku bisa membeli sepatu. Aku hanya bisa terheran melihat sikapnya yang semakin lama semakin menyebalkan. "Cepat pilih." Aku sengaja menabrakan bahuku ke tubuhnya. Sialan! Bahuku yang malah sakit. Aku tidak tahu kalau bahunya sekeras itu. Aku melihat beberapa sepatu didepanku. Ervan mengajakku ke tempat sepatu yang memang designnya terkenal. Saat aku tanya kenapa mengajakku kesini dia hanya bilang kalau mamahnya sering membeli sepatu disini. Aku sengaja memilih sepatu yang harganya lumayan mahal. Sekali-kali Ervan memang harus di kerjain. Biar dia itu tidak seenaknya kepadaku. Aku mengambil sepatu yang menurutku designnya bagus dan elegan. Aku melihat tagnya. 13.000.000. Aku langsung mengambil dan langsung membawa sepatunya ke kasir. Dalam hati aku ingin tertawa. Tetapi saat kasirnya menyebutkan harga wajah Ervan tidak berubah kaget. Malah tetap datar. Aku mengerutkan kening kesal. Kenapa jadi aku yang kesal sih? Dasar cowok aneh!!!!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • SECRET
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • ROMEO(NG) * [On Going]
  • The Third Person ✔
  • Amor Eterno
  • Because You {ON GOING}
  • Because ILY [Completed]
  • Silent, Please! (Re-up)

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines