Story cover for Lentera by Uyuuun
Lentera
  • WpView
    LECTURES 54
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 2
  • WpView
    LECTURES 54
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 2
En cours d'écriture, Publié initialement mai 26, 2019
Lentera lentera telah padam.
Kunang kunang menampakkan cahaya indahnya.
Langit terkesiap menatap awan yang keriput seperti kulit jeruk.
Dalam bayang bayang rembulan yang bersinar elok diangkasa, mengambang lembut diangkasa bersama awan awan yang seperti gula kapas keabu abuan.
Gemintang membentuk ribuan formasi.

Langit yang berbaik hati tidak menurunkan hujannya, membiarkan seluruh manusia dibumi memandang takjud dirinya bersama sahabatnya rembulan dan gemintang.
Rembulan yang  dapat membunuh sepi, mengusir gulana, membunuh semua pertanyaan, membuat nyaman dan tentram, membuat penat dan sesak dikepala hilang.

Membuat anak kecil yang menangis sesegukan menanyakan dimana ibunya berhenti menangis berganti senyum indah dengan mata sembab yang berair.
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Lentera à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#81kelam
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
My Eternal Moon [ End ✔️], écrit par cweetcobeyi
38 chapitres Terminé
Wulan mendekat, penasaran. Bintang mengeluarkan sebuah gelang anyaman dari kantong celananya. "Ini buat kamu. Supaya kita selalu jadi sahabat selamanya." Wulan tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Sahabat selamanya?" Bintang mengangguk yakin. _________________________________ _________________________________ "Kehilangan mengajarkanku arti kehadiran. Tapi kehadiran yang tak pernah pergi, mengajarkanku arti pulang. Dan pada akhirnya, bukan tentang siapa yang kembali-melainkan siapa yang sejak awal tak pernah benar-benar pergi." __________________________________________________________________ "Lucu ya? Saat akhirnya kupikir aku bisa bernapas lega, dunia malah menertawakan aku. Seolah berkata, 'Jangan senang dulu, aku belum selesai menghancurkanmu.'" - Wulan Salsabila. __________________________________________________________________ "Orang yang paling keras kepala bukan orang yang tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Tapi dia yang tahu dirinya hancur, tahu dirinya butuh bantuan, tapi tetap saja milih buat menyimpan semuanya sendiri." -Raka Aditya. __________________________________________________________________ "Lan, kalau aku adalah bintang indahmu, maka kamu adalah bulanku-seseorang yang memberiku cahaya bahkan di malam-malam tergelap. Kamu adalah ketenangan, kehangatan, kehadiran yang membuat segalanya terasa aman dan indah. Bahkan ketika bintang-bintang mulai redup, bulan tetap bertahan, bersinar dengan tenang. Jadi, jika kamu memanggilku bintang indahmu, maka aku akan memanggilmu bulan abadiku-seseorang yang tetap tinggal, seseorang yang selalu bersinar di langitku." -Bintang Pradipta. __________________________________________________________________ "Dari janji persahabatan di bawah pohon rindang SD, hingga langkah-langkah berat di SMA-kapan persahabatan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit?" PERHATIAN‼️ Cerita ini murni ide author tanpa menjiplak karya siapapun enjoy~♡
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 9
Memories in Moon cover
Dandelion [TERBIT] cover
Ketika Bintang Kehilangan Cahayanya cover
Auristela cover
Reborn In a Hug cover
LANGIT END cover
Senja Termendung cover
My Eternal Moon [ End ✔️] cover
Gadis Cuaca cover

Memories in Moon

13 chapitres Terminé

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?