Flora Adara dan Eros Madava Gunadhya
Dua orang yang akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Mereka bersahabat sejak kecil, tetapi kepribadian yang mereka miliki berbeda 180°.
Flora, gadis dingin yang benci akan keramaian, hidupnya serba sederhana, tidak terlalu pintar, tapi memiliki senyum paling menawan yang tak akan terbayangkan.
Eros, pria playboy yang popularitasnya melangit, hidupnya penuh dengan kemewahan, parasnya yang tampan mampu memikat perempuan manapun. Termasuk Flora.
Semanjak masuk ke dunia putih abu-abu, semua berubah. Banyak kebahagian yang dibangun di atas luka. Dari mulai popularitas yang membuat persahabatan hancur, perasaan yang tak kunjung terbalaskan, drama-drama yang tercipta dari keegoisan, dan masih banyak lagi luka yang berdiri di atas ego.
Bagaimana jika Eros mengetahui perasaan Flora, sahabat dari kecilnya itu?
Bagaimana kisah persahabatan yang dibangun bertahun-tahun runtuh dengan mudahnya?
Bagaimana dengan segala bentuk luka yang datang, apa yang akan mereka lakukan?
Happy reading
Bagaimana jadinya jika kamu jatuh cinta pada seseorang yang minim akan pengalaman dalam kisah cintanya? Terlebih lagi, orang itu tidak mau peduli dengan cinta. Itulah yang dialami oleh seorang gadis bernama Falisha atau biasa disapa Ica.
Pada awalnya, Ica hanya penasaran dengan Arsen dan segala sisi misteriusnya. Sikap Arsen yang dingin sangat kontras dengan teman-temannya yang terlihat ramai dan riuh setiap saat. Dari situlah muncul rasa ingin tahu yang besar hingga menggerakkan Ica untuk terus mendekati Arsen. Seiring berjalannya waktu, timbul perasaan di hati Ica. Perasaan indah yang muncul karena banyaknya waktu yang telah mereka habiskan bersama.
Semuanya terlihat baik-baik saja hingga akhirnya Ica menyadari bahwa bukan hanya dirinya lah yang tengah berjuang mendapati hati laki-laki dingin itu, melainkan juga Bella, sahabat dekat Arsen yang nyaris mendekati kesempurnaan. Ica pun menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah menang dari Bella.
Apa yang akan Falisha lakukan? Apakah gadis itu akan terus memperjuangkan perasaannya? Atau mungkin mundur dan menyerahkan perasaannya pada takdir?