HUJAN
  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Wed, May 29, 2019
Hujan? Kau pebawa semangat, namun juga pembawa kesedihan, aku selalu berfikir tentang Hujan bahwa ia rela jatuh berkali-kali tetapi ia tetap semangat membasahi bumi ini. Sedangkan aku? Gadis buta yang setiap hari ditindas, dicaci, diremehkan. Namun, kenapa aku mengeluh? Aku kadang pernah putus asa, apa gunanya aku hidup? apa gunanya aku bernafas? Jika hidupku seperti ini, tidak ada gunanya, lahir dari keluarga berada namun bukan itu yang aku mau, yang aku mau adalah kehormatan. Gadis seperti apakah pantas untuk hidup? Gadis lemah yang hanya bisa pasrah saat di tindas. Oh Tuhan, jika engkau mau ambil saja nyawaku, rasanya aku ingin menghadapmu saja, aku sudah tidak kuat untuk saat ini. Namun, kembali lagi dengan hujan, aku harus jadi seperti hujan meskipun kadang tak dianggap tapi ia terus semangat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Ada cinta dibalik hujan turun
  • TOMI
  • Aksara Lingga
  • GUNFA
  • ALEYA~~
  • Cerita Tentang Kita
  • Gadis Hujan
  • Bi 비 (Rain)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines