Story cover for The Family Is Not Clear by AuliaDestama
The Family Is Not Clear
  • WpView
    Reads 426
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 9
  • WpView
    Reads 426
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 9
Ongoing, First published May 28, 2019
hanya menceritakan kisah rumah tangga yang diperani oleh member nct.

"cintanya ayah ke bunda tidak bisa terkalahkan oleh apapun "- jung jaehyun

"mark tau, mark tampan, mark capek dengan ketampanan mark yang meraja rela"- mark lee

"aku dimana? aku anak siapa?"- park jisung

***

Menjadi seorang istri dari jung jaehyun bukan lah hal berat, namun ketika bagaimana dirinya patuh terhadap suami.
Apalagi dengan dihadiri dua orang anak yang selalu membuat adel jengkel.

Namun siapa sangka kegaduhan anaknya membuat adel merasa rumah terasa ramai oleh pertengkaran-pertengkaran kecil yang disengaja maupun tidak.

Sebagai istri dan ibu itu harus memahami karakter anak-anaknya dan tentu suami sebagai mestinya jaehyun yang selalu ingin dimanja ketika pulang berkerja.

Mark yang selalu ingin dibuatkan susu ketika ingin tidur, dan jisung selalu ingin diusap rambutnya ketika dia merasa lelah.

Adel bersyukur mempunyai keluarga seperti ini walau terkadang ia merasa stress. Mau tau bagaimana karakter dan jalan cerita keluarga ini silahkan dibaca.

"Stress gw lama-lama"- destama adelia

**

REAL IMAGINATION
DONT COPY PASTE EAA :v
All Rights Reserved
Sign up to add The Family Is Not Clear to your library and receive updates
or
#660adel
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
KARAFERNELIA  cover
CRÈME BRÛLÉE   // TAMAT // cover
♡Please Love Me♡ || JaeYong ✓ cover
Naughty boy (TAHAP REVISI) cover
New Members At Home cover
GrapicH [✔] JOHNTEN FML cover
[✔️] Rival Terang - terangan || Markhyuck cover
Jung Family 8 Generation of Abelard Jaehyun |Jeno | Mark | Junghwan |  ft Noren cover
J&J || NCT Dream [End] cover
PERGI TANPA PILIHAN  cover

KARAFERNELIA

47 parts Ongoing

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.