A Destination Called You

A Destination Called You

  • WpView
    Reads 997
  • WpVote
    Votes 146
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Fri, Apr 24, 2026
Terkadang untuk merasakan bahwa seseorang berarti bagi kita, kehilangan adalah salah satu cara terbaiknya. • • • • "Kamu harus jadian sama Farrel!" ucap Sandi dengan wajah tengilnya. "Apa?! Jadian?" teriak Versya. "Iya jadian. Kenapa?" Sandi menaik turunkan alisnya. Versya menatap tajam ke arah Sandi, "Heh batu Nisan! Kamu gila apa gimana?! Masa aku harus jadian sama cowok yang bahkan baru aku kenal." "Iya aku emang gila. Udah cepetan jalanin aja tantangan yang aku kasih. Pokoknya kamu harus jadian sama dia!" "Nggak! Aku gak mau! Kamu aja sana yang jadian sama dia!" Versya mendelikan matanya. "Gak usah banyak protes. Aku kasih waktu kamu 5 hari untuk bisa jadian sama dia. Atau aku bakal bocorin semua rahasia kamu yang ada disini." Sandi mengacung acungkan buku berukuran kecil kepada Versya dengan seringaiannya. "Ck! Iya iya oke. Aku bakalan turutin tantangan kamu." jawaban Versya tersebut membuat Sandi tersenyum kemenangan.
All Rights Reserved
#590
santri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • The Villain's Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines