My Twias

My Twias

  • WpView
    LECTURAS 16
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, mar 1, 2020
Cerita ini menceritakan tentang dua anak kembar yang diusir dari rumah karena kesalah pahaman dan juga kisah cinta si kembar. "BANG KENZI GAK SALAH MA, PA....!!!" teriak seorang gadis kecil membela abang kembarannya. "APA.... KATAMU HAH.. GAK SALAH JELAS-JELAS DIA YANG SUDAH MENCELAKAI REY DENGAN MENUSUKNYA" balas teriak seorang wanita yang sedang menangis di pelukan sang suami. "DIAM... AKU MERASA TIDAK MEMPUNYAI ANAK SEPERTI MU. JADI MULAI SEKARANG KAU BUKAN ANGGOTA KELUARGA ADITYA LAGI" bentak laki-laki yang sering di sebut deddy oleh si kembar. "Baiklah, kalu itu mau kalian. Tapi jangan menyesal jika kalian sudah mengetahui faktanya. Dan kami tak akan pernah kembali kekeluarga ini lagi" ucap bocah laki-laki sambil memeluk sang adik yang menangis di dekapanya. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini.
Todos los derechos reservados
#51
ingat
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Jejak wasiat kakakku
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • RAIHAN
  • Almeyra Azqilla Alana [On Going]
  • AMORA
  • He Called Me Mama
  • Dekat Tapi Sekedar Teman
  • Anna's Secret [END]

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido