TUMBAL DARAH.

TUMBAL DARAH.

  • WpView
    Reads 752
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Fri, Aug 16, 2019
Mereka adalah makhluk yang tak ramah, primitif tapi agak futuristik dan khas. Mereka adalah makhluk yang tak menyerupai hewan maupun tumbuhan. Seiring dengan jaman dan ketakutannya, mereka disebut dengan "Humonculust" Istilah ini dipopulerkan oleh para ahli alkimia pada abad ke 16, dan oleh para penulis fiksi abad ke 19, yang keduanya mendefinisikan makhluk buatan. Konsep ini berakar dari kepercayaan preformationism. Mereka menyebut diri nya anak Adam,tetapi bukan dari anak Hawa Mereka menyebut diri nya makhluk yang paling kuat daya tahan nya, masih menjadi tanda tanya,misterius, yang akan menandingi reputasi manusia Moses kakak beradik adalah alkemis pengembara waktu kehilangan anggota tubuh dan struktur manusia nya dari perjalanan waktu yang terpaksa mereka lakukan, dari pertahanan sisi gelap pemerintah dan militer,karena Humonculust terkahir mati yang satu satu nya sumber informasi mengenai fenomena unik,mereka harus menghidupkan kembali Humonculust tersebut dengan melawan arus takdir sekali pun karena alkemis adalah orang yang ahli dalam menangani fenomena unik, Moses kakak beradik juga akan merebut kembali separuh kehidupan nya sedikit demi sedikit.
All Rights Reserved
#25
alkimia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Syal Merah
  • ARKNIGHTS; SEIRA-III
  • END | I Transmigrated Into a Finished Novel
  • Transmigrasi Queen Antagonis
  • The White Room
  • Ujung Serbuk Emas Segera Hancur [END]
  • 𝐃𝐄𝐀𝐓𝐇 𝐋𝐔𝐑𝐊𝐒
  • Echoes of the Forgotten Time
  • MR. MORGAN
  • Shadows of the Main Story

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

More details
WpActionLinkContent Guidelines