Diplomasi Imaji

Diplomasi Imaji

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 30, 2019
Pikiran kita adalah sebuah mekanisme mengolah data/rangsangan yang diterima dari seluruh panca indera,pemikiran itu terbentuk oleh sekumpulan logika yang saling berkesinambungan, tapi logika tak bisa disebut sebagai hasil dari otak kita(makna pikiran diatas adalah otak) hasil otak kita tak semua bisa dibilang seebagai logika yang murni dan disini terdapat fakta bahwa logika bisa ternodai Logika yang "ternodai' adalah logika yang terbentuk oleh sebuah perhubungan,kata,makna,pemahaman manusia yang terhubung dengan pola yang tidak terstruktur, pola yang terhubung belum sistematis dan pemahaman, makna, kata yang terbentuk kurang tepat sehingga munculah sebuah hasil otak berupa logika namun logika itu yang kurang Logika pedagogik merupakan logika yang paling krusial dalam berlogika karena dalam logika tersebut ada sebuah instrumen internal dari logika itu sendiri yang bisa memperbaiki, menambah dan mengurangi serta mengembangkan sebuah logika itu sehingga logika itu terbentuk sebagai pemikiran
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Because I'm Stupid (End)
  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • the other side
  • Sekolah Tanpa Sekolahan
  • ALFIAN BAGASKARA
  • World
  • The Puzzle Of Life
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • KEPUTUSAN DIANTARA "DUA" PILIHAN

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines