Miranda, wanita yang wajahnya bak pahatan dari surga, cantik dan cantik dengan kulit putih pualam seindah keramik antik tiongkok dan tatapannya yang dingin. CEO dari Start Light Corp, bergerak di bidang fashion. Perusahaan yang terpaksa diterimanya di usia masih remaja ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil.
Karena kondisi semakin menjeratnya yang dimainkan oleh Edward, dia dipaksa untuk menikahinya...."Kamu memang bajingan, super bajingan, bajingan komplit." Edward berbisik di telinganya, "Istriku, aku lapar, aku ingin memakanmu."
Suamiku itu pengangguran, buas dan bajingan, bisakah aku mencintainya ?
Demi perusahaannya bisa go publik, dia harus menghadapi tekanan-tekanan..
"Aku hancurkan perusahaanmu atau menikah denganku." Kata mitra bisnisnya.
"Berani menyentuh istriku ? Lenyapkan orang dan perusahaannya segera !" Kata Edward
Siapakah yang akan dipilihnya ? Perusahaan warisan orang tuanya atau suaminya yang pengangguran ?
Identitasnya makin terungkap, sebetulnya suamiku adalah....
INI NOVEL ADULT ROMANCE 21+, JANGAN ASAL BACA BAGI KALIAN YANG BELUM CUKUP UMUR.
••••
"Mau nikah dulu, atau kawin dulu? saya bisa semuanya? Pilih saja Nadi."
••••
Nadine Savaira (24 tahun) memutuskan kabur sejauh-jauhnya setelah membatalkan pertunangannya secara sepihak.
Ia kemudian tinggal di sebuah desa yang begitu asri dan saling bergantung satu sama lain. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Nadi langsung bekerja sebagai pegawai Puskesmas disana.
Suatu hari Nadi ditugaskan ibu lurah untuk menyambut seorang dokter baru di kampung mereka. Dia dokter yang sangat tampan, berusia 29 tahun. Di pertemuan pertama, dia sudah membisikkan tepat di telinga Nadi, kata-kata yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tertangkap Nadi"
Dia lelaki itu, mantan calon suaminya Nadi, pemilik tatapan yang sangat tajam. Dosa Nadi padanya adalah, Nadi kabur saat mereka akan menikah.
Dan sekarang lelaki itu tampaknya ingin membalas dendam atas masa lalu tidak menyenangkan itu.
Ikuti kelanjutan kisah Nadine Savaira, Barra Dominic Arnault, dan Ravindra Albaraq W.