Awal
  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 21, 2019
Namaku Audia. Umur 16 tahun, anak tunggal.Aku memang tidak kaya, dan aku juga tidak miskin. Orang bilang aku cantik, tapi menurutku tidak begitu. Aku tidak pintar, dan juga tidak bodoh. Aku punya sahabat, namanya Sena. Persahabatan kami seperti sahabat kebanyakan. Namun, kisah kami berdua berbeda dengan sahabat kebanyakan. Nggak penasaran? Aku nggak peduli. Aku Audia, dan ini rahasiaku
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Alufiru [Selesai]
  • The RainGirl
  • Red [Cerita Pendek]
  • Vericha Aflyn ✔️
  • FARZAA
  • Secarik Luka [Complete]
  • You Remember Me Or Forget Me?...
  • Mahligai Sunyi
  • Aksara Lingga

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines