Jurnal Chitra

Jurnal Chitra

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 16, 2021
"Chit, pacaran aja yuk." "Nggak, ah." "Ke... kenapa?" "Ya kali gue pacaran sama gay macem lo." "Anjing, gue serius, Chit." "Ya lagian, masa gue mau pacaran sama orang yang udah punya pacar? Emangnya gue gila." "Gue suka sama lo, Chit." "Oh... HAH?!" ----- "Kak Chit, gue suka sama lo." "Ho-oh, gue juga." "Hah? Serius?" "Iya, ngapain bohong." "Berarti mau dong, jadi pacar gue?" "Hah? Nggak lah, gila." "Lah? Katanya..." "Ya kali, Bar, lo pacaran sama tante-tante." "Tante-tante? Kak, come on. Lo cuma tiga tahun lebih tua dari gue." "Tetep aja. Kok selera lo banting stir, sih? Perasaan mantan terakhir lo dedek gemesh." "Sebenernya gue suka sama lo dari lama, Kak. Jauh sebelom lo jadi sekretaris OSIS Pelita." "Hah...?" ----- Please deh, guys. Hidupku sebagai adiknya Bang Jo dan kakaknya Sam sudah sangat melelahkan. Ditambah lagi kenyataan bahwa Chitra Sabrina adalah anaknya seorang Wanda Sabrina yang galaknya ngalahin Popo anjingnya Kak Bora-eh ya ampun kualat, Chitra!!! Yah intinya hidupku sudah cukup berkrikil, kenapa ini orang-orang jadi aneh begini? Yang benar-benar saja lah, aku tuh capek! ### NOTE: Cerita ini 100% fiksi dan diupdate ketika penulis memiliki mood yang baik untuk menulis. Mari bersama menghargai dan melestarikan cerita gratis dengan tidak menjiplaknya. Trims. Selamat menikmati. Ilygsm.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • GHAVARI
  • Three Targeted Girls!!
  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Sudut pandang (felisha)
  • Diary Ayra: Cerita Cinta SMA
  • LOVE STORY QIANARRA
  • No Longer Mate
  • My Bromance [18+] End
  • Giant Baby [COMPLETED]

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines