My  Possesive Verona

My Possesive Verona

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jun 2, 2019
Pernikahan antara Pedro dan Verona terasa dingin dan kaku ketika tujuan masing masing terucap sebelum sahnya ikatan suci terjadi,namun dibalik semua itu Verona tetaplah wanita yang mencintai Pedro cinta yang tumbuh subur tanpa balasan mengubah pribadi Vero menjadi agressip dan possesive namun bagi Pedro tak berarti apapun Vero tetaplah wanita yang berstatus istrinya yang hanya akan mendapatkan kepuasan ranjang saja tanpa adanya cinta. "Malam ini aku akan berpeluh keringat untukmu nona memenuhi hasratmu berteriak lah sesukamu asal kou jangan gunakan hatimu untuk hasratmu karena aku tak akan berubah hanya dengan menidurimu tujuan kita berbeda nona..dan cintaku pun tetaplah sama sebelumnya hanya untuk seseorang"ucap Pedro ditengah bara yang melalap hasrat untuk dituntaskan "Lakukanlah seperti yang kita sepakati aku akan berteriak sesukaku walau aku tak berarti apa-apa di matamu,"ucap Verona dengan menahan sesak dihatinya Cerita 20th+ untuk yang dibawah mohon menjauh lebih bijak dalam mencari bacaan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • Crying In The Winter (On Going)
  • Penyesalan
  • Pelakor? Yes, I'm!
  • MARRIED WITH MY FRIEND
  •             Between Me You And Her
  • ALGRAVANO
  • His touch, Her desire
  • WHAT'S GOING ON WITH ME

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

More details
WpActionLinkContent Guidelines