Please, Dont Leave Me!!

Please, Dont Leave Me!!

  • WpView
    Reads 19,333
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 3, 2019
Hy, the first time i'm published my imagine stories. If anything wrong, please forgive me. Enjoy 🧡✨ --- Syifa diam, sungguh saat ini ia tak mampu berbuat apa2. Ia kalah dengan keadaan, ia menyesal harus kembali dengan peristiwa memilukan seperti ini. 10 hari hanya terkurung di apartement ini membuat mentalnya down, belum lagi ia tidak nafsu makan. Bahkan ia kehilangan berat badannya. Sampai suatu ketika ia dipaksa Rizky makan, dengan kasar Rizky memaksa Syifa untuk makan. "Ini bukan cinta. Aku tidak mau dicintai dengan cara seperti ini. Ini hanya obsesi tak bergunamu yang malah menyiksa dan mengekang kebebasanku." Syifa berbaring memunggungi laki-laki yang menurutnya sudah kehilangan akal warasnya. Laki- laki berperawakan tampan itu tak bergeming, tak mendengar keluh syifa. Ia hanya memasang wajah datar dan memeluk syifa secara posesif padahal yang memiliki tubuh selalu berontak. Sudah, cukup. Habis kesabaran Syifa. Ia pelintir tangan Rizky, ia cubit dengan keras menggunakan kuku tajamnya yang tentu saja mungkin tak berarti apa-apa bagi laki-laki yang memiliki kulit tebal. Namun berhasil membuat kulit Rizky terkelupas. Seketika Rizky terbangun dan membuka mata, menahan perih?? Tentu tidak, ini bukan apa2. ia geram dengan syifa. Rizky pun mencengkeram pipi syifa kasar. "Aaaaawww sakit kak!!!" Syifa meringis kesakitan. "Sakit?? Aku hanya ingin tidur dengan tenang. Kenapa kamu melukai kulitku?? Kamu ingin aku bertindak buruk??" Ancam Rizky. --- Follow, official instagram @_hanaasal
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mr. & Mrs Albrecht
  • One First Touch Naked
  • Unpredictable Love
  • Love Him? Big NO!!! [On Going]
  • Give Me Your HUG(END)✅
  • Destiny [COMPLETED]
  • BronSAn
  • Denyut Waktu (TAMAT)
  • LOVE & HATE  [ REVISI ] ✔

Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines