Story cover for Estungkara by Aurielyriell
Estungkara
  • WpView
    Reads 7,172
  • WpVote
    Votes 708
  • WpPart
    Parts 20
  • WpView
    Reads 7,172
  • WpVote
    Votes 708
  • WpPart
    Parts 20
Ongoing, First published Jun 04, 2019
"Lo mau duit berapa?" 

Laki-laki itu medecih pelan, mengabaikan tatapan tajam dari sang gadis yang masih terpaku akibat ucapannya.

"Maksud kamu?" Kening sang gadis berkedut, dia masih belum sepenuhnya mengerti.

"Nggak ada manusia yang beneran baik di dunia ini. Jadi Kakak lo nggak mungkin ngorbanin nyawanya buat nyelametin gue kalau bukan karena duit 'kan?" Ujar Trias dengan nada yang tajam.

"Kam-" 

belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, Trias kembali memotong,

"Dua juta? Dua puluh juta? Atau dua ratus juta? Lo tinggal sebutin aja." Trias melipat kedua tangannya, alis tebalnya terangkat seolah meremehkan sang gadis.

Perlahan gadis itu mendekat. Dipandanginya iris kelam milik Trias lekat-lekat. Dengan nada yang tenang namun terdengar menakutkan dia pun lantas berujar, "kamu tau kenapa Tuhan nggak ngambil nyawa kamu saat itu?" Gadis itu menarik nafas kecil kemudian tersenyum, nampak mengerikan. "karena jiwa kamu terlalu hina. Bahkan untuk mati sekalipun."

Gadis itu berlalu pergi, meninggalkan Trias yang masih enggan meninggalkan tempatnya berpijak saat ini. Matanya menerawang seiring dengan otaknya yang kembali memutar kilasan peristiwa beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, andai saja Kakak dari gadis tadi membiarkan Trias menghabisi dirinya sendiri

Andai saja Kakak dari gadis tadi tidak menyelamatkannya

Andai saja Kakak dari gadis tadi tidak datang saat itu

Andai saja...

Semuanya tidak terjadi.

***
Note : update nggak terjadwal. Tapi diusahain tetep kelar kok :))

Asikin aja yaaa
All Rights Reserved
Sign up to add Estungkara to your library and receive updates
or
#189hijab
Content Guidelines
You may also like
DANADYAKSA by KumbangPolkadot
70 parts Complete
Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***
DAKSA [END] by StarNight_SF
46 parts Complete
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA] PART MASIH LENGKAP! "Kemana tadi?" Daksa yang mendengar pertanyaan Kara jadi gugup dan bingung harus jawab apa "JAWAB!" ucap Kara dengan nada yang lebih tinggi "Tadi habis..habis...habis..anu..itu..." jawab Daksa bingung dan menggaruk pipinya yang tidak gatal "Jawab jujur atau gue lebih marah" "Tadi gue habis nganterin Elsa belanja ke mall, gue mau nolak sebenernya tapi dia ngancem putus" Kara yang mendengar itu menghebuskan nafas kasar Daksa Pramudya Aksara, laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA ini memiliki sifat dingin,ganas,cuek,tapi kalau udah ada pawangnya jinak. Daksa adalah salah satu murid nakal sekaligus berprestasi disekolahnya. Daksa memiliki sahabat perempuan yang sangat ia jaga,kalau ada yang ganggu sahabat kesayangannya ini, jangan harap bisa selamat dari amukan Daksa Karana Anastasya Rajendra, perempuan yang masih duduk di kelas 2 SMA ini memiliki sifat yang jutek, galak, tapi penyabar dan penyayang, apa lagi kalau udah berhadapan sama sifat sahabat laki-lakinya itu. Cuma Kara yang bisa jinakin sahabatnya ini. Banyak yang berfikir kalau hubungan Daksa dan Kara lebih dari sekedar sahabat. Tapi keduanya tidak mempedulikan itu, mereka hanya berteman dan mengangap hubungan mereka seperti adik-kakak. Tapi.... tidak ada yang tahukan kedepannya bagaimana Masalah yang datang di hubungan mereka membuat mereka menyadari perasaan mereka yang sebenarnya.... Gambar di cerita : Pinterest Publish : 25/06/21 End. : 18/10/21 TAHAP REVISI REPOST : 11/11/21 SELESAI : 11/12/21 [DON'T COPY MY STORY!!] 🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
You may also like
Slide 1 of 10
Elegi Rasa : Pergi cover
Jiwa Yang Berbeda ? (End) cover
KAYLA : I DESERVE TO BE LOVED cover
Sefrekuensi {ON GOING} cover
Another Soul (Transmigrasi) [END] cover
Satu Langkah Lebih Dekat [hiatus] cover
ALEYA~~ cover
DANADYAKSA cover
Arsyilazka cover
DAKSA [END] cover

Elegi Rasa : Pergi

30 parts Complete

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.