How to be Your Friend

How to be Your Friend

  • WpView
    Reads 103,644
  • WpVote
    Votes 15,315
  • WpPart
    Parts 50
WpMetadataReadComplete Wed, May 5, 2021
Cover by : @ilustrasiindong Seri pertama dari #HTBYSeries Binar Almeara seorang gadis yang didiagnosa mengalami Avoidant personality disorder. Yakni gangguan kepribadian di mana penderitanya menghindari interaksi sosial. Hal itu membuat Binar selalu dinilai sombong, kaku, dan aneh. Hidup Binar bagaikan selembar kertas putih kosong. Hampa. Sampai suatu hari seseorang di bus kota itu mengajak bicara untuk pertama kalinya. "Nama gue Gema. Gema aja. Jangan pakai 'S'." Dan berawal dari pertemuannya dengan Gema, hidup Binar mulai berubah. "Bin, kursi pertemanan gue itu nggak terbatas. Tapi kalau saat ini gue mau lo duduk di sana, itu tandanya lo adalah orang yang terpilih. Atas keinginan gue sendiri. Atas hati gue sendiri." "Gue tahu kursi pertemanan lo itu belum terisi oleh siapapun. Apa gue nggak boleh duduk di sana biar lo nggak duduk sendirian lagi?" "Kasih tahu gue gimana caranya buat menempati kursi itu, Bin." Tidak ada yang tidak mau berteman denganmu, Binar. Bahkan siapapun yang sudah mengenalmu, mereka akan jatuh cinta padamu. --Langit. #challenge30gp
All Rights Reserved
#63
feelings
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • AKSELIO NALENDRA
  • Let Me Love You Longer
  • REGRET
  • Fall And Love
  • Guntur ; BAD BOYFRIEND [SUDAH TERBIT]
  • GALANG [SELESAI]
  • UNLOVABLE
  • Gula - Gula
  • RAYMOND INOSENSIA (NEW)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines