Kenyataan memang tak selalu manis, begitu pula kehidupan. Roda bisa saja berputar meninggikan manusia sampai ke atas langit paling tinggi, tapi bisa juga mendorong manusia ke dasar jurang paling dalam. Tidak ada yang pernah tahu nasib akan seperti apa.
.
Begitupun Selene -gadis yang memiliki arti bulan itu tak pernah menyangka hidupnya akan berubah sedemikian rupa. Ketika kesabaran diuji, ketika persahabatan di pertaruhkan, dan ketika kenyataan pahit menyambutnya. Akankah Selene bisa bertahan? Atau justru dia akan menyerah pada nasibnya.
.
"Maaf Wana, aku tadi ingin nolong Nabil jadi kulempar sepatuku ke arah kakak-kakak SMA itu,"
"Perhatikan baik-baik! Lihat nih caranya, ngelempar kayak gini aja ngga bisa,"
"Kalian tuh oneng sekali sih! SELAMAT KALIAN NAMBAH MUSUH!"
"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku.
"Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya"
"Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku
"I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--"
"Mana jawabanmu?"
"Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang.
"Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya.
"Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua.
Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun.
"Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."