Efemeral

Efemeral

  • WpView
    Reads 411
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadComplete Sat, Aug 10, 2019
Aku terdiam menatap laut di bawahku dari atas jembatan. Badanku terasa mati, terhanyut oleh hiruk-pikuk kendaraan tengah malam yang tak terlalu ramai ini. Kemeja putih lusuhku terasa menyesakkan dada. Celana kain hitamku juga tak kalah lusuhnya dari kemejaku. Huh. Hidup ini sudah sangat berat, padahal usiaku saja baru menginjak umur 34 tahun. Ibu, aku rindu senyummu dan sup hangatmu yang selalu kau sajikan tiap malam untukku. Sekarang harus kemana aku berkeluh kesah? Pekerjaan yang menumpuk membuatku kesulitan mengimbangi kehidupanku, bu. Kehidupan di ibukota memang selalu sulit. Ah, memang lebih baik aku melompat saja dari sini! Aku tak tahan lagi. Semua ini seakan-akan menghantuiku. Maafkan aku, bu. Hey, bukankah itu suara isakan?
All Rights Reserved
#527
sastra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TOO MUCH (Tamat)
  • JINGGA (Saat Kenangan Perlahan Memudar)©
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Haruskah Aku Menunggumu? (REVISI)
  • Me and My World
  • Confused
  • The Fate Of My Life (END)
  • Memories in Moon

Why aku harus menjalani rentetan kesialan? Tidak bisakah aku sekadar bernapas tanpa perlu mencemaskan apa pun? Mengapa aku harus melanjutkan hidup sebagai karakter bodoh yang faaaaake banget, sih? Orang lain pasti mampu mengambil alih jalan cerita dan mencampai puncak kesuksesan. Namun, aku tidak begitu. Jangankan merancang rencana memperbaiki ekonomi, sekadar berusaha leher tidak kena tebas tokoh penting pun sulit! Aku bermaksud memperbaiki hubungan dengan tokoh penting. Barangkali semua masih bisa kuperbaiki sekalipun mustahil. Namun, lupakan saja! Bukannya penerimaan baik yang kuterima, justru ancaman mati konyol terpampang jelas di hadapanku. Oke, baiklah~ Aku menyerah! Selamat tinggal! Kalian, tokoh penting, ingin membenciku? Silakan saja. Bencilah diriku sepuas hati. Semua tokoh di sini sinting! Bila hidup memberiku lemon, cukup lempar lemonnya ke musuh. Beres!

More details
WpActionLinkContent Guidelines