Seorang Melody yang susah di dekati oleh para lelaki memiliki sifat yang tangguh juga percaya diri, dia juga pintar dalam semua bidang, dan hal itu membuat satu-satunya perjaka tampan di sekolahnya kagum juga jengkel.
"Lo tuh emang cewek centil tau nggak !!, lo pikir, lo bisa ndapetin semua cowok di sekolah ini ?!?!?!, dasar pel**ur" bentak Saga yang saat itu naik darah.
"Maksud lo apa sih ga !!!!, udah.., puas lo ngehina dan malu-maluin gue di depan banyak orang ?!?!, asal lo tau ya, cewek yang di foto itu bukan gueee !!!, serah lo deh kalo lo nggak percaya", ucap Melody lalu berlari meninggalkan Saga.
Namun setelah Saga berusaha meminta maaf kepada Melody, di situlah mulai ada rasa sesungguhnya.
"Gue nggak butuh lo !" Bentak Melody yang terus berjalan.
"Mel !, dengerin dulu !!, Mel !!!" ucap Saga yang sedikit berteriak seraya menggapai tangan Melody.
"Mel, gue suka sama lo" ucap Saga.
Padahal Melody sudah lama mengincar Yovan, anak IPS, kira-kira Melody sama Saga bakal bersatu nggak ya ??.
"Lo mau nggak jadi pacar gue" ucap Yovan pada Melody.
"Gu...gue" Melody hanya tersenyum tipis.
Di sisi lain, Melody memiliki masalah dalam keluarganya, bukan bersama kakak-kakak nya atau papanya, melainkan bersama mamanya.
"Saat itu juga mama punya dendam yang mendalam sama kamu dan tante Rika" ucap mama Melody yang tak bisa menahan air matanya.
"Ma, ini udah takdir maa, tolong mama ngerti, nggak ada yang salah di dalam masalah ini" ucap Melody seraya memeluk erat
.
Kira-kira Melody bakal akur nggak sama mamanya?, terus Melody jadiannya sama Saga atau Yovan ?.
"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?"
.....
"Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi.
"Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti.
"Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas.
....
Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu.
"Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi.
"iya woeeyy!" Hani mengiyakan.
"sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar.
....
"Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya.
....
"Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?"
Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang.
"Kenapa kamu tanya gitu?"
"Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.